SURABAYA | bidik.news – Program International Student Exchange (Istudex) siswa Kelas IV, V dan VI SD Muhammadiyah 4 (SD Mudipat) Pucang Surabaya ke negara Jepang baru-baru viral di media sosial.
Berikut penjelasan Kepala Sekolah SD Muhammadiyah 4 Pucang Surabaya, Eddy Susanto kepada awak media, termasuk bidik.news diruang kerjanya, Kamis (15/6/2023) pagi.
Dijelaskan Edi, untuk mengikuti Istudexc membutuhkan biaya dan akomodasi yang tidak sedikit. Maka Program Istudex ini telah disosialisasikan pihak sekolah kepada orang tua wali murid ketika awal masuk SD Mudipat.
Sehingga siswa berkesempatan untuk menabung sejak kelas I. Dan di kelas IV, V dan VI tabungannya sudah mencukupi untuk mengikuti program Istudex. Sebagai implementasinya, Program Istudexc digelar dalam 2 gelombang.
“Pertama, digelar di Singapura dan Malaysia yang diikuti 30 siswa. Untuk gelombang kedua, kami pilih negara Jepang dan diikuti 12 siswa kelas 4, 5 dan 6. Bahkan rencana kami akan memilih Australia sebagai negara tujuan dalam program kami berikutnya,” ujar Edi.

Alasan memilih Jepang menjadi tujuan Istudexc, kata Edi, karena faktor kedisiplinan dan tata krama. Sebelumnya, pihak sekolah juga mengajak siswanya ke negara tetangga, yakni Malaysia dan Singapura.
“Kami ingin siswa kami meniru cara belajar tentang kemandirian, kedisiplinan, kebersihan, keramahan, sopan santun, ketertiban, tentang semangat belajar dan etos kerja yang tinggi, juga belajar peradaban dan tradisi,” ujar Edi.
Di negara Sakura, para siswa Mudipat diajak berkunjung di 3 sekolah, yakni Sekolah Republik Indonesia Tokyo (SRIT), Mito Eiko Elementari School Tokyo dan Takagami Elementari School di Chiba serta di museum mobil Toyota.
“Di SRIT anak-anak tidak bisa bertemu dengan siswanya karena sedang ujian seperti sekolah lainnya di Indonesia. Tapi di dua sekolah lainnya anak-anak diterima dengan sangat luar biasa,” ucapnya.
Eddy menambahkan, dari hasil kunjungan ke Jepang akan menerapkan origami, yaitu seni melipat kertas untuk membuat mainan, sebab dari origami ini banyak didapatkan pelajaran berharga. Seperti melatih konsentrasi, melatih motorik.
“Belajar origami di Jepang menggunakan tab yang ada tutorialnya, sehingga bisa diulang-ulang hingga semua anak bisa. Maka tidak heran bila semua anak-anak di Jepang bisa membuat Origami karena sudah dimasukkan dalam kurikulum pelajaran,” tandas Edi.
Sementara itu, terkait video di Tik Tok yang viral, yakni Bocil Pelesir di Jepang. Eddy menilai netizen tidak paham, dan membantah kalau kunjungan ke Jepang hanya menghambur-hamburkan uang.
”Tidak benar SD Mudipat hanya menghambur-hamburkan uang ke Jepang. Semua wali murid pun sudah setuju dan tidak keberatan,” pungkas Edi Susanto.










