BIDIK NEWS | JAKARTA – Indosat Ooredoo menegaskan komitmennya menunjang bisnis media broadcasting di Indonesia. Hal ini terwujud pada gelaran Business Connect, yakni Media Broadcaster, bertema “Akselerasi Masa Depan Bisnis Media Penyiaran Lewat Satelit PALAPA NUSANTARA DUA” di Jakarta, Selasa (12/2).
Chief Business Officer Indosat Ooredoo, Intan Abdams Katoppo mengatakan, Indosat Ooredoo menyadari pentingnya teknologi satelit untuk menunjang bisnis penyiaran di Indonesia. “Karena itu, kami menyediakan Satelit PALAPA NUSANTARA DUA yang akan diluncurkan pada 2020 mendatang sebagai pengganti Satelit Palapa D, untuk menyediakan layanan media penyiaran di Indonesia,” katanya.
Indosat Ooredoo, lanjut Intan, menargetkan peluncuran PALAPA NUSANTARA DUA selesai pada Mei 2020 dengan seamless migration process. Dimana dampak transisi dari Palapa D ke PALAPA NUSANTARA DUA sangat minim dirasakan oleh pelanggan. “Satelit ini akan menempati slot orbit yang sama dengan Palapa D yaitu di 113O Bujur Timur,” ujarnya.
Indosat Ooredoo bersama PT Pintar Nusantara Sejahtera (Pintar) dan PT Pasifik Satelit Nusantara (PSN) melalui perusahaan joint venture PT Palapa Satelit Nusa Sejahtera (PSNS) telah menandatangani kesepakatan kerjasama untuk pembelian satelit dengan produsen satelit terkemuka asal Tiongkok, China Great Wall Industry Corporation (CGWIC).
Penandatanganan ini disaksikan oleh Menkominfo, Rudiantara dalam Asia Pacific Satellite Communications Systems International Conference (APSAT) 2017 lalu di Jakarta.
Indosat Ooredoo mengoperasikan satelit Palapa D yang diluncurkan Agustus 2009 di China dan akan berakhir umurnya pada 2020. Peluncurannya dilakukan oleh teknisi-teknisi terbaik dari Indosat Ooredoo. Kapasitas transponder dalam Palapa–D disewakan kepada operator penyiaran dan telekomunikasi. Layanan satelit penunjang lain termasuk pemakaian untuk layanan TV, link Indosat Ooredoo TV, layanan jaringan privat, akses Internet, dan multimedia serta konferensi video.
Satelit di orbit 113O Bujur Timur merupakan ekosistem utama bagi penyiaran di Indonesia yang menggunakan layanan Free to Air, termasuk bagi mayoritas broadcaster lokal. “Kami yakin satelit ini memiliki peranan vital dalam menyampaikan informasi ke masyarakat lewat lembaga penyiaran dan berguna untuk menjaga persatuan dan kesatuan RI,” tutup Intan. (hari)











