SURABAYA l bidik.news – Rencana pemerintah pusat membangun Proyek Strategis Nasional (PSN) Tanggul Laut Raksasa atau Giant Sea Wall sepanjang Pantai Utara Jawa (Pantura) dari Banten hingga Gresik, Jawa Timur, dinilai sebagai solusi jangka panjang penyelamatan Pulau Jawa.
Anggota Komisi D DPRD Jatim yang membidangi infrastruktur, M. Samwil dari Fraksi Partai Demokrat, menyatakan dukungannya penuh terhadap proyek yang kini dikoordinasikan Menko Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, AHY tersebut.
Menurutnya, proyek ini bukan sekadar membangun tembok di tepi laut, tapi membangun sistem pengelolaan air nasional.
Samwil menjelaskan, Giant Sea Wall memiliki dua fungsi utama.
“Tanggul laut diperuntukkan agar air laut tidak masuk ke darat, tidak terlalu banyak masuk ke darat. Dan sebaliknya, air darat, air yang dari gunung itu tidak langsung hilang ke laut. Fungsinya seperti itu. Oleh sebab itu dibuat kanal,” ujar Samwil pada Selasa ( 29/6/2026 ).
Selama ini, lanjutnya, setiap musim hujan, jutaan kubik air tawar dari pegunungan langsung terbuang ke laut. Padahal air itu sangat dibutuhkan.
“Kalau hilang ke laut, kasihan tidak bisa dimanfaatkan. Sayang sekali tidak bisa dimanfaatkan oleh petani, untuk kepentingan manusia, untuk air mandi, air minum, dan lain sebagainya,” tegasnya.
Dengan adanya kanal di balik tanggul raksasa, air tawar tersebut bisa ditampung menjadi waduk raksasa, menjadi cadangan air baku dan irigasi.
Ia juga memberi catatan teknis agar kanal tersebut tidak mematikan ekonomi nelayan.
“Tetapi kanal-kanal itu yang tidak digunakan oleh aktivitas nelayan. Kalau digunakan untuk aktivitas nelayan, berarti kanalnya harus dibuat agak ke atas sedikit, agar perahu masih bisa lewat,” jelasnya.
Samwil juga menyoroti fenomena kota pesisir yang terancam tenggelam seperti Semarang. Selama ini disebut akibat penurunan muka tanah (land subsidence).
“Daratan-daratan yang sudah menurun, setiap tahun turun sekian senti. Akhirnya kayak Semarang tenggelam, daratannya seolah-olah turun. Tetapi bukan daratannya turun menurut hemat saya, tapi ketinggian muka air lautnya yang naik. Akhirnya terkesan daratannya turun,” paparnya.
Pemicunya adalah perubahan iklim global.
“Suhu alam kita itu naik, otomatis ada pencairan di kutub. Air laut yang beku makin mencair. Akhirnya volume air laut naik,” katanya.
Jika dibiarkan, air laut akan terus merembes dan membuat sumur-sumur warga menjadi payau dan tidak layak konsumsi.
“Inilah kebijakan Presiden yang sangat penting dan bagus untuk menjaga ekosistem. Tujuannya agar sumber air di daratan tidak tercampur air laut menjadi payau semua. Kalau sudah payau, tidak bisa dimanfaatkan masyarakat,” ujarnya.
Samwil menyebut, meski air payau merugikan untuk air minum, namun untuk wilayah Gresik, air payau justru menjadi sumber ekonomi.
“Tetapi ada juga kepentingan ikan yang memerlukan air payau untuk udang dan bandeng masih bisa digunakan. Hanya daerah Gresik saja yang punya alam seperti itu. Jadi nanti desain tanggulnya harus adaptif, tidak mematikan tambak,” tuturnya.
Di akhir, legislator Demokrat asal Malang Raya itu berharap PSN ini tidak berhenti di wacana.
“Saya sebagai anggota DPRD Provinsi Jawa Timur dari Fraksi Partai Demokrat berharap infrastruktur yang sudah direncanakan ini mudah-mudahan segera dimulai pembangunannya, agar ke depan alam ini bisa kita wariskan dengan baik kepada anak cucu kita nanti,” pungkas Samwil.( Rofik )











