SURABAYA l bidik.news – Pemerintah Provinsi Jawa Timur melalui Dinas Perhubungan (Dishub) memastikan kelanjutan proyek Surabaya Regional Railway Line (SRRL) yang menghubungkan wilayah Surabaya dan Sidoarjo. Proyek strategis ini didanai melalui pinjaman (loan) dari pemerintah Jerman senilai Rp5,4 triliun dan ditargetkan mulai beroperasi pada tahun 2027.
Kepala Dinas Perhubungan (Kadishub) Jawa Timur, Nyono, menyampaikan hal tersebut usai mendampingi kunjungan Duta Besar Jerman bersama Kepala Daerah Operasi (Daop) 8 Surabaya di lokasi proyek baru-baru ini.
“Kunjungan tersebut bertujuan memastikan bahwa proyek senilai Rp5,4 triliun ini dapat berjalan dan beroperasi pada tahun 2027,” ujar Nyono saat di temui di gedung DPRD Jatim pada Senen ( 19/1/2026 ).
Nyono menjelaskan bahwa skema pembiayaan proyek ini sepenuhnya merupakan pinjaman dari pemerintah Jerman kepada Pemerintah Republik Indonesia melalui Kementerian Perhubungan, khususnya Direktorat Jenderal Perkeretaapian (DJKA). Nantinya, Kementerian Perhubungan yang akan bertanggung jawab atas pengembalian pinjaman tersebut.
Rute dan Teknis Pembangunan
Proyek SRRL ini akan melayani rute sepanjang 27 kilometer yang terbagi menjadi dua segmen. Segmen 1A mencakup jalur Stasiun Gubeng – Wonokromo – Waru – Sidoarjo. Sementara itu, Segmen 1B akan menghubungkan Wonokromo menuju Pasar Turi.
Secara teknis, Nyono menegaskan bahwa moda transportasi ini adalah Kereta Rel Listrik (KRL), bukan kereta cepat. Pembangunan jalur tidak akan dilakukan secara melayang (elevated), melainkan dengan pelebaran jalur di sisi kanan rel eksisting (at grade) untuk penambahan jalur ganda (double track).
“Nanti akan ada pelebaran jalan di sebelahnya, tidak elevated, tetapi ditambahi jalan ganda. Pengaturan operasionalnya nanti akan dilakukan oleh PT KAI di bawah naungan Kemenhub,” jelasnya.
Salah satu poin utama dalam kerja sama dengan Jerman ini adalah transformasi penggunaan energi. Nyono memaparkan bahwa SRRL didesain sebagai green infrastructure dengan emisi nol.
“Kenapa pakai listrik? Supaya ramah lingkungan dan tidak lagi menggunakan diesel yang berbasis bahan bakar fosil. Dulunya memang didesain menggunakan bahan bakar solar, namun kemudian diubah menjadi kereta listrik agar nol emisi,” tegas Nyono.
Terkait progres administrasi, Nyono mengungkapkan bahwa kontrak Detail Engineering Design (DED) atau kriteria desain teknis telah ditandatangani pada akhir Desember lalu.
Denganrampungnya tahap DED, proyek ini diharapkan dapat segera masuk ke tahap konstruksi fisik guna mengejar target operasional pada 2027, memberikan layanan transportasi massal yang setara dengan KRL Commuter Line di Jabodetabek. ( Rofik )











