SURABAYA | BIDIK NEWS – Hadi langsung tancap gas dengan pencanangan 4 konsep program di masa yang akan datang agar Bank Jatim menjadi lebih baik. Dari 4 program tersebut, utamanya yakni program pengembangan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dan program digital banking.
Untuk 4 program yang sudah canangkan Bank Jatim, antara lain program merevolusi pegawai. “Pegawai-pegawai yang selama ini kurang pendidikan dan pelatihan (diklat) sudah kami buatkan reng-rengan untuk di diklat agar menunjang keahliannya,” ujarnya,
Rabu (19/6/2019).
Selanjutnya program untuk menyelesaikan kredit-kredit bermasalah yang sampai saat ini
masih dikatakan berat dan sulit.
“Kami sudah bicarakan dengan direktur yang lain, kami akan menjual factory (pabrik) dibawah teman-teman perbankan yang lain di bidang itu. Kita jual kredit-kredit yang bermasalah, tapi itu prosesnya agak panjang, karena perlu due diligence dulu, tapi sudah kami mulai. Selain harus ekspansi kredit yang harus prudent (bijaksana), namun tetap signifikan besarnya, kalau tidak, tidak akan bisa nututi yang namanya target-target yang sudah dibebankan kepada kami,” jelasnya.
Lalu program kredit untuk rakyat, yaitu UMKM itu yang tetap ditingkatkan melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR). Mungkin nanti semacam low agreement (persetujuan rendah) dan model-model yang lain. “Kita ini sudah punya banyak model-model kredit kecil, namun karena saking banyaknya skim (meluncur), sehingga sulit untuk diselesaikan
semuanya. Nanti akan kami sederhanakan, biar pelaksanaannya lebih mudah,” terangnya.
Dan untuk menyambut digital banking four poin zero. “Kami akan berupaya bisa mengikuti perkembangan itu. Bank Jatim akan menggandeng Bank Rakyat Indonesia (BRI) dan ada 2 orang, yakni Busrul dan Sigit,” ucapnya.
Dengan tambahan 2 rekan ini, diharapkan bisa mensinergikan energi positif yang ada di BRI dan Bank Jatim. Sehingga Bank Jatim bisa lebih jaya dan lebih mampu untuk bertarung dipasar.
Untuk agenda RUPS LB kali ini adalah perubahan susunan pengurus perseroan pada komisaris yang semula 5 orang menjadi 7 orang. Yaitu, Komisaris Utama Ahmad Sukardi, Komisaris Budi Setiawan dan Heru Tjahjono (Sekdaprov), Komisaris Independen Rudi Purnowo, Candra Fajri Ananda dan Prof Mas’ud Said.
Sedangkan untuk susunan Direksi jumlahnya 7 orang. Yaitu, Dirut Hadi Santoso yang sebelumnya Direktur Kepatuhan dan Human Capital Bank Jatim, Direktur Komersial dan Korporasi Busrul Iman sebelumnya Pimpinan Wilayah Bank BRI Jatim, Direktur Konsumer Ritel dan Usaha Syariah Elfaurid Aguswantoro sebelumnya Pjs Pimpinan Divisi Kepatuhan Bank Jatim, Direktur Teknologi Informasi dan Operasi Tonny Prasetyo sebelumnya Pimpinan Divisi Umum Bank Jatim, Direktur Kepatuhan dan Manajemen Risiko Erdianto Sigit Cahyono sebelumnya Kepala Audit Intern Wilayah Bank BRI Kantor Wilayah Jakarta 1, Direktur Resiko Bisnis Rizyana Mirda dan Direktur Keuangan Ferdian Timur Satyagraha.
Dengan perubahan pengurus, diharapkan dapat membawa Bank Jatim lebih baik dimasa mendatang. Dan mampu meningkatkan kinerja Bank Jatim, dimana hingga Mei 2019, laba bersih Bank Jatim sebesar Rp 658,73 miliar atau tumbuh 7,62% (YoY) dan aset Bank Jatim tumbuh 10,29% (YoY) atau Rp 65,97 triliun.
Dari segi bisnis, kredit Bank Jatim pun mengalami pertumbuhan 8,16% (YoY) atau Rp 34,76 triliun. Sedangkan Dana Pihak Ketiga (DPK) Bank Jatim mengalami pertumbuhan 11,88% atau Rp 55,4 triliun dengan CASA ratio 67,66% atau bertahan diatas 65% selama lebih dari 15 tahun.
Hal ini menunjukkan konsistensi kemampuan Bank Jatim dalam mengelola dana murah.
Bank Jatim juga telah meluncurkan berbagai inovasi dan layanan terbaru, yang tujuannya
memberikan kemudahan dan kenyamanan kepada masyarakat dalam bertransaksi perbankan. Seperti pada awal tahun, Bank Jatim resmi meluncurkan portal e-form kredit. Portal ini untuk memudahkan masyarakat dalam melakukan pengajuan kredit.
Secara teknis, nasabah/calon nasabah Bank Jatim cukup melakukan registrasi pada portal
e-form kredit. Selanjutnya calon nasabah akan mendapatkan notifikasi berupa persyaratan
yang harus dibawa ke kantor Bank Jatim terdekat.
Sedangkan di bidang digital banking, guna meningkatkan pelayanan kepada nasabah, Bank Jatim memperkenalkan fasilitas terbaru fasilitas QR code yang diberi nama jatimcode. Yang merupakan pengembangan fitur pembayaran Bank Jatim mobile banking melalui scan QR code.
Fitur ini memudahkan nasabah dalam bertransaksi, sehingga lebih fleksibel. Fitur ini juga untuk memfasilitasi nasabah milenial Bank Jatim sebagai alternatif
transaksi pembayaran yang mudah, cepat, dan efisien.
Seperti diketahui, Bank Jatim merupakan bank umum yang berkantor pusat di Surabaya dan memiliki jaringan di seluruh Jatim, DKI Jakarta dan Kota Batam. Didirikan 17 Agustus 1961, dengan berbadan hukum Perusahaan Daerah (PD). Pada 1976, Bank Jatim berubah status menjadi Badan Usaha Milik Daerah (BUMD). Dan sejak Juli 2012, Bank Jatim melakukan Penawaran Umum Perdana Saham atau Initial Public Offering (IPO) yang menjadikan Bank Jatim menjadi salah satu Bank Pembangunan Daerah yang sudah terbuka (Tbk).
Untuk jumlah layanan operasional, hingga Mei 2019 Bank Jatim memiliki total sebanyak 1.715 layanan operasional, baik layanan konvensional maupun syariah. Bank Jatim juga memiliki layanan e-banking seperti ATM, SMS Banking, Internet Banking, Mobile Banking dan yang terbaru fitur jatimcode untuk memberikan kemudahan
kepada nasabah dalam bertransaksi dimanapun dan kapanpun berada.
Selain telah bekerjasama dengan jaringan ATM Bersama dan jaringan Prima, termasuk Prima Debit. Yang terbaru, Bank Jatim telah bergabung dalam Gerbang Pembayaran Nasional (GPN) yang berarti kartu ATM Bank Jatim dapat digunakan pada seluruh ATM dan merchant di Indonesia yang berlogo ATM Bersama, Prima dan GPN tanpa dikenakan biaya apapun. (rinto/rofiq)











