SURABAYA- Berbagai upaya Pemprov Jatim bersama Forkopimda mencegah penularan virus Covid-19 terus dilakukan. Salah satunya dengan membentuk Satgas (Satuan Tugas) yang diberi nama Tim “Mobile Hunter Covid-19”.
Tim ini dibentuk disetiap kab/kota di Jawa Timur yang dikoordinir Forkopimda. Yang menarik, nama ini menjadi “rasan-rasan” sejumlah pihak. Bahkan politisi partai Nasdem Jawa Timur, Vensencius Awey mengkritik pedas nama ini, karena dianggap tidak ada unsur edukasinya.
“Namanya tidak ada unsur edukasinya serta humanis, ko manusia seperti binatang buas diburu, karena istilah Hunter itu kan pemburu,” ujarnya kepada BIDIK News, Minggu (20/9/2020).
Masih kata Awey yang menjabat sebagai Wakil ketua Bidang Media dan Komunikasi Publik. Partai NasDem Jawa Timur. Walaupun masyarakat tidak disiplin masalah Protokol kesehatan, tapi tidak harus menggunakan istilah diburu. Berarti masyarakat selama ini dianggap liar.
“Gunakan lah istilah yang humanis, sehingga masyarakat lebih teredukasi, dan tercapai tujuannya,seperti Tim ” Mobile Covid-19 Discipline Enforcer’,” Masih kata Awey. Sebenarnya tujuan ini baik mencegah penularan Covid-19, namun jangan sampai tujuan yang baik malah menimbulkan kontraproduktif dimasyarakat, sehingga tujuan yang baik itu menjadi gagal,” tandasnya.
Seperti diketahui, istilah “Hunter” pada umumnya sebagai mithos masyarakat di Eropa yang dikenal dengan istilah “Wind Hunt”, yang artinya melibatkan kekuatan alam (Supranatural) pemburu ghaib atau perburuan.
Seperti diketahui, Pemerintahan kota/Kab kota se Jawa timur saat ini membentuk Satgas yang diberi nama “Mobile Hunter Civid-19”. Satgas ini terdiri dari unsur TNI-Polri, Satpol PP dan Dishub yang tergabung dalam Forkopimda. (Imron)











