“Pada panen tahun ini, petani hanya mampu mendapatkan rata-rata 220 Kg/Ha. Jumlah ini menurun jauh jika dibanding hasil pada tahun sebelumnya yang mencapai 400 Kg/Ha,” ungkap Suto, Jumat (26/11/2021).
Berawal dari permasalahan inilah, PJB ikut terlibat aktif memecahkan permasalahan dan memberikan manfaat pagi petani kopi Desa Andungbiru. Melalui Inovasi pembuatan trichokompos atau pupuk organik, penjemuran kopi komunal, hingga inovasi penjualan produk kopi, berbagai masalah utama petani bisa diatasi.
Direktur Utama PT PJB, Gong Matua Hasibuan menyampaikan kontribusi PJB dalam mendampingi petani kopi di Desa Andungbiru.
Dikatakannya, seluruh unit PJB yang tersebar di penjuru Indonesia berkomitmen dapat hadir dan memberikan kebermanfaatan di sisi masyarakatnya. PJB UP Paiton telah memecahkan permasalahan di Desa Andungbiru dengan menghadirkan terobosan dari hulu hingga ke hilir di pertanian kopi.
“Saya yakin, melalui terobosan ini, petani kopi di Desa Andungbiru dapat terbantu dengan meningkatnya kualitas dan kuantitas produksi kopi serta mengangkat perekonomian di tengah pandemi,” ujarnya.
Ditambahkan Gong Matua Hasibuan, PJB menghadirkan inovasi trichokompos atau pupuk organik yang dihasilkan dari bahan limbah kulit kopi dilakukan untuk menyelesaikan kelangkaan dan kenaikan harga pupuk. Para petani diajari bagaimana membuat trichokompos dilengkapi dengan bantuan peralatan sehingga bisa memproduksi pupuk secara mandiri.
“Dengan biaya Rp 170 ribu sudah dapat menghasilkan 500 kg pupuk trichokompos atau setara dengan Rp 340/Kg. Harga ini 10 kali lebih murah bila dibanding dengan harga pupuk kimia/anorganik yang mencapai Rp 3.400/Kg,” tegasnya.












