MALANG I Bidik.news– Jelang pilkada Kabupaten Malang, publik tertuju pada pasangan Salaf (HM Sanusi dan Hj Lathifah Shohib), yang santer kabarnya di usung oleh PDIP dan PKB, meski Pasangan Calon ( Paslon) , memiliki kekuatan besar. Namun tidak menutup kemungkinan bagi Paslon non petahana dalam memenangkan pertarungan masih tetap terbuka.
Pengamat politik dari universitas Brawijaya (UB) Wawan Sobri menjelaskan, sangat mengapresiasi langkah dari salah satu Paslon yaitu, Gunawan Wibisono ( Abah Gun) yang saat sendang mengikuti kontestasi dari proses demokrasi. Namun, keberhasilan paslon ini bergantung pada dukungan partai politik (parpol) dan kader serta respons dari masyarakat di Kabupaten Malang.
” Saya mengapresiasi langkah politik Abah Gun, dari kontestasi pemilihan umum saat ini bergantung pada dukungan partai politiknya” terangnya, pada Senin ( 5/8/2024).
Wawan mengungkapkan, meskipun pasangan salaf ( Sanusi dan Latifa ) memiliki kekuatan besar dan kuat, namun tekat dari Abah Gun juga patut di akui. Ini saat peran parpol menjadi penentu apakah mereka akan mengusung kandidat non- petahan.
“Selain fokus pada pemenangan, penting bagi tokoh dan kandidat untuk memprioritaskan gagasan politik, karena 3 juta warga Kabupaten Malang mengharapkan pemimpin yang membawa perubahan,” bebernya.
Di tempat terpisah, tokoh masyarakat asal Dampit Miskari, ketika di hubungi lewat telfon memberikan tanggapan, menghitung secara kalkulatif bahwa Paslon Salaf sudah memiliki dukungan yang solid. Meskipun pasangan ini bersaing dengan rival di Pilkada 2020, pengurangan dukungan seiring berjalannya waktu dapat diatasi. Lathifah, dengan gaya politisi gerilya, memiliki basis massa yang kuat meskipun tampak landai di permukaan.
“Penting juga untuk mengingat bahwa kemenangan HM Sanusi pada 2020 berkat dukungan basis massa PDIP dan PKB. Kini, dengan bersatunya Sanusi dan Lathifah, basis pendukung semakin yakin mendukung keduanya” katanya ketika di hubungi.
Dukungan dari partai, lanjutnya, seperti PDIP, PKB, Nasdem, Hanura, dan PKS membuat lawan tanding potensial hanya terbatas pada koalisi Golkar dan Gerindra. Jika itu terjadi, tentu siapapun lawan yang akan muncul tidak akan mudah untuk memenangkan pertarungan,” ungkapnya.
Menurutnya, kesempatan bagi Abah Sanusi untuk memperkuat kebijakan pembangunan masih luas. Hari ini, hampir di seluruh desa yang memiliki hajatan Suroan, HM Sanusi aktif berinteraksi dengan konstituen. Meskipun politik tidak mengenal yang tidak mungkin, kekuatan duet Sanusi-Lathifah tetap menjadi faktor kunci
“Ini beda seandainya keduanya berhadapan lagi, terutama jika hanya ada 2 calon, pertarungan akan semakin seru. Pada Pilkada 2020, selisih suara antara HM Sanusi dan Lathifah hanya 3 persen. Bahkan tanpa calon Malang Jejeg, HM Sanusi bisa saja kalah waktu itu,” tutupnya.






