BIDIK NEWS | BANYUWANGI – Tak bisa dipungkiri, pemuda adalah aset bangsa yang sangat berharga. Masa depan Negeri ini bertumpu pada kualitas mereka.
Namun ironisnya, kini tak sedikit kaum muda yang justru menjadi pelaku terorisme. Bahkan anak-anak pun juga sudah ada yang terlibat, dan sudah barang tentu banyak juga yang terkontaminasi oleh paham tersebut.
Hal itu diungkapkan Wakil Sekretaris DPD Banteng Muda Indonesai (BMI) Jatim, H. Rudi Santoso SE, baru-baru ini disela-sela kesibukannya.
Dikatakan H Rudi, rentannya pemuda maupun anak dibawah umur terhadap aksi kekerasan, paham radikal dan terorisme patut menjadi keprihatinan bersama.
Menurutnya, banyak faktor yang menyebabkan para pemuda terseret ke dalam tindakan terorisme, mulai dari kemiskinan, kurangnya pendidikan agama yang damai, gencarnya infiltrasi kelompok radikal, lemahnya semangat kebangsaan, kurangnya pendidikan kewarganegaraan, kurangnya keteladanan, dan tergerusnya nilai kearifan lokal oleh arus modernitas negatif. Dan tidak kalah pentingnya peranan orang tua, lingkungan untuk mendidik para anaknya.
“Apapun faktor yang melatari, adalah tugas kita bersama untuk membentengi mereka dari radikalisme dan terorisme,” ucap H. Rudi.
Ditambahkannya, BMI Jatim mendukung langkah Polri memberantas teroris maupun aliran atau golongan yang mengarah radikal sampai ke akar-akarnya.
“Kami Banteng Muda Indonesia Jatim meminta agar segera di sahkannya RUU anti teroris yang masih ngendon di DPR RI,” imbuhnya.
Selain itu, lanjut H. Rudi, pihaknya meminta peran serta pemerintah dari segala tingkatan untuk melakukan sosialisasi paham radikal kepada generasi muda di segala jenjang pendidikan, baik formal maupun non formal (sekolah maupun pondok pesantren)
“Sekali lagi, ini tugas kita bersama sesama anak bangsa, dan mencegah tentu lebih baik,” pungkasnya.(nng)











