BANYUWANGI | BIDIK – Desa Bumiharjo, Kecamatan Glenmore merupakan salah satu daerah penghasil buah alpukat jenis aligator di Banyuwangi.
Bertempat di Perkebunan Madukara, yang merupakan salah satu sentra kebun alpukat aligator yang lokasinya berada di kawasan hutan.
Disela-sela kegiatan Bupati Ngantor di Desa (Bunga Desa), Bupati Ipuk Fiestiansani getol menggali berbagai potensi di desa tersebut untuk didukung dan dikembangkan. Dan salah satu potensi besar Desa Bumiharjo adalah sektor pertanian.
Perkebunan ini dikelola oleh Perhutani KPH Banyuwangi Barat bekerjasama dengan Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) yang juga sebagai petani alpukat.
“Lahan perkebunan alpukat ini merupakan milik Perhutani, namun dikelola bekerjasama dengan petani yang merupakan warga sekitar kawasan hutan,” kata Ipuk.
Kawasan hutan ini sekitar 2.000 hektare, namun yang ditanami alpukat hanya sekitar 20 hektar dengan total 6000 pohon yang masih bisa dimaksimalkan hingga 200 ribu pohon.
Di perkebunan ini, terdapat 5 jenis varietas alpukat yakni algator, markus, miki, red vietnam dan raung. Sekali panen sekitar 500 kilogram. Sejak awal tahun ini saja, sudah panen sebanyak tiga kali.
Melihat potensi tersebut, Ipuk meminta kepada Dinas Pertanian untuk mendorong pengembangannya. Apalagi alpukat ini merupakan salah satu buah yang digemari masyarakat luas.
“Kita nanti promosikan, Dinas Pertanian saya minta terus mendampingi. Kalau terus berkembang, bisa saja kita bikin festival yang mengangkat potensi alpukat berbagai varietas, kuliner, olahan, serta yang bertemakan alpukat lainnya,” jelasnya.
Selain mengunjungi kebun alpukat, Ipuk juga meninjau sentra pertanian selada air. Desa ini merupakan sentra produksi selada air, dengan luasan total sebanyak 3 hektare.
Selain sektor pertanian, disetiap Bunga Desa Ipuk juga selalu menyempatkan mengunjungi sekolah. Ipuk mengunjungi SDN 2 Bumiharjo, untuk memberikan workshop berkaitan dengan pendidikan. Mulai dari parenting, wawasan kebangsaan, hingga pencegahan akan tiga dosa besar pendidikan yang meliputi bulliying, kekerasan dan intoleransi.
“Tiga dosa besar ini akan terus kami sampaikan agar jangan sampai terjadi pada anak-anak kita. Sasaran dari dari program ini tidak hanya pelajar dan guru, tapi juga anggota komite sekolah yang merupakan para wali murid. Dengan demikian penanganan ini bisa komprenhensif,” papar Ipuk.
Selama Ipuk berkantor di desa, juga diselenggarakan layanan publik, seperti administrasi kependudukan, perizinan usaha mikro berbasis OSS, perpajakan hingga tes kesehatan, konseling, pelatihan UMKM, dan lainnya. Kali ini di balai desa tersebut huga digelar pasar murah beras.
Saat Bunga Desa di Bumiharjo, Ipuk sekaligus menggelar melakukan Safari Ramadan, sebagai memontum silaturahmi dengan tokoh agama dan masyarakat. Ipuk berbuka puasa dengan masyarakat Desa Bumiharjo di masjid Al Khoiriyah. Dalam kesempatan tersebut Ipuk memaparkan berbagai capaian dan program-program Banyuwangi ke depan.(nng)











