BANGKALAN I BIDIK.NEWS – Wajah yang keriput tampak menghiasi raut mukanya. Dibalik wajah keriputnya masih terlihat tatapan matanya terlihat sayu dan sendu dan bersinar menandakan beliau sosok yang istiqomah dalam melakukan kewajiban sebagai muslim yang taat beribadah.
Namun siapa sangka hidupnya penuh lika-liku dan cobaan. Hikmahnya, pada saat kita menjalankan kehidupan sehari-hari harus bijak memilih teman maupun pasangan hidup.
Inilah kisah mantan pengusaha kontraktor hebat sebut saja AHP, namun disisa usianya harus kehilangan kasih sayang dari istri maupun anaknya.
Ketika ditemui awak media, lelaki tua kelahiran Banyuwangi Jawa Timur 70 tahun silam ini sebenarnya bukan sosok lelaki biasa, meski usianya tua namun ingatannya masih tajam saat menceritakan kisah perjalanan hidupnya.
Sambil menghela napas, lelaki tua lulusan Sarjana Tehnik (ST) di salah Universitas terkemuka ini mengingat kembali saat masa jayanya sebagai pengusaha kontraktor dan pemilik salah satu hotel di kota Metropolitan Surabaya.
Dikisahkan, dahulu saat menikah dengan wanita cantik staf Pegawai Bank BTN adik kandung salah satu pejabat tingggi. perkenalan kami diawali ketika sering bertemu di rumah kakak petinggi tersebut di daerah Jakarta Pusat karena memang bertetangga.
“Pernikahan kami waktu itu begitu bahagia hingga di karuniai satu laki-laki dan satu perempuan,” terang AHP kepada bidik.news.
Seiring berjalannya waktu, setelah rumah tangga yang dibina hampir 20 tahun lamanya terjadi badai. Istri yang selama ini menemaniku meminta agar aku lebih aktif dirumah dengan mengurusi anak untuk antar jemput saat pulang kerja.
“Sebagai pengusaha kontraktor tentu hal itu kutolak karena akan menyebabkan pekerjaan jadi terbengkalai sedangkan jiwaku sebagai pengusaha yang tidak bisa hanya diam dan duduk dirumah ,sehingga kuberikan alternatif pakai asisten rumah tangga dan sopir, tapi istriku menolak,” jelasnya.
Ditambahkannya, tidak ada angin dan hujan diriku seakan disambar petir, istriku mengajukan gugatan cerai ke Pengadilan Agama Surabaya. Rumah yang kami tempati juga dijual padahal itu rumah warisan orang tuaku dan anak-anakku dibawa serta dijauhkan dari aku sebagai ayah kandungnya.
“Setelah digugat cerai, aku menikah dengan orang Jakarta asli betawi lalu tinggal di rumah sederhana milik mertua sekitar Menteng Jakarta Pusat. Dengan harapan membina rumah tangga baru, rumah tersebut saya bangun dua tingkat untuk kos aku juga membangun restoran agar istriku ada kegiatan serta mendapatkan hasil tambahan,” terangnya.
Nasibku memang tidak seindah yang kubayangkan. Usaha kontraktor mulai menurun dan pada tahun 2005 teradi kolap akibat tertipu rekan kerja. Aibatnya, rumah tannga juga terkena imbasnya. Percekcokan setiap hari terjadi dan puncaknya kita hidup satu atap akan tetapi pisah ranjang.
“Pada tahun 2002, kedua mataku menderita buta total. Namun istriku tetap tidak mau peduli maupun mengantarku berobat ke RS mata, bahkan mengusirku secara secara terang-terangan agar pulang ke rumah saudaranya di Jawa Timur.
Namun Allah telah menurunkan pertolongan dengan mempertemukan sahabat lamaku Nor Cholis Ali, SH.MH yang dikenal sebagai aktivis kemanusiaan. Sekian tahun lamanya tidak berjumpa tiba-tiba dia menelpon aku menanyakan kabar baik lalu kusampaikan kondisiku.
“Alhamdulillah dia mengutus anaknya yang dijakarta untuk menjemputku, lalu diantar ke terminal Bus setelah di dalam Bus dititipkan ke salah satu penumpang orang madura yang baik mau menuntunku hingga turun Suramadu dan dijemput Oleh Nor Cholis,” pungkas AHP mengakhiri kisahnya.
Mantan miliarder itu kini hidup dalam sebatang kara dengan kedua matanya yang buta total dan di campakkan oleh istriinya tanpa mau menemani dan merawatnya dihari tua.
“Anak laki-lakinya telah meninggal beberapa bulan lalu. Sementara itu putrinya saat di hubungi melalui chat WA tidak ada respon sama sekali. Saat ini, bapak ini hanya bisa berdoa dan pasrah semoga ada hidayah bagi anak dan kerabatnya untuk peduli akan masa tuanya,” terang Nor Cholis.
“Bagaimanapun juga saya ingin meninggal dalam pelukan anak maupun saudara, bukan di rumah teman,” harap AHP. (cs)











