BIDIK NEWS | LAMONGAN – Gangguan jiwa menjadi masalah kesehatan yang memiliki angka kejadian cukup tinggi. Angka yang tinggi ini diakibatkan kurangnya pengetahuan dalam mengendalikan faktor penyebab terjadinya gangguan jiwa, sehingga sangat jarang masyarakat yang memperhatikan persoalan kesehatan jiwa.
Masyarakat masih lebih cenderung fokus terhadap kesehatan fisik. Padahal, kesehatan jiwa juga tidak kalah pentingnya untuk diperhatikan. Kab Lamongan memang memiliki program ”Lamongan Bebas Pasung” yang sukses dilaksanakan. Tapi untuk Posyandu Jiwa sebagai upaya pencegahan gangguan itu, belum ada di Desa Daliwangun.
Berangkat dari persoalan itu, Riris Medawati, Ayu Septia Malinda, Wahyu Agustin Eka Lestari, Verantika Setya Putri, dan Achmad Ubaidillah Mughni. Semuanya mahasiswa Fakultas Keperawatan (FKp) Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, berinisiatif meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya kesehatan jiwa.
Perhatian tim Program Kreativitas Mahasiswa bidang Pengabdian Masyarakat (PKMM) yang diketuai Riris Medawati ini dituangkan melalui program pengabdian masyarakat bertajuk ”MENTOS (Mental Health Pos): Pos Pelayanan Preventif Gangguan Kesehatan Jiwa Melalui Pembentukan Kader Kesehatan Jiwa di Desa Daliwangun, Kec Sugio, Kab Lamongan”.
”Kami membentuk kader kesehatan jiwa dengan memberdayakan anggota Karang Taruna Desa Daliwangun. Jadi program ini bertujuan agar masyarakat lebih peduli terhadap kesehatan jiwa. Karena kami pikir, masyarakat perlu tahu, bahwa kesehatan jiwa itu juga penting. Kan kalau mau sehat bukan hanya fisik, tapi juga psikologisnya,” kata Riris Medawati, ketua tim PKMM Unair ini belum lama ini.
Kader kesahatan yang merupakan anggota Karang Taruna diajarkan bagaimana cara screening dan edukasi masyarakat, sehingga terbentuklah Pos Kesehatan Jiwa yang dilaksanakan di Balai Desa Daliwangun.
Sebelum membentuk kader kesehatan jiwa, dilakukan sosialisasi, yaitu memberikan penyuluhan kepada semua pemuda Kartar tentang kesehatan jiwa dengan mengundang nara sumber sebagai pemateri, yaitu Moh. Saifudin S.Kep., S.Psi., M.Kes.
Intinya, sebelum membentuk sebuah kader, masyarakat perlu diberikan bekal tentang kesehatan jiwa. Kemudian dari semua pemuda Kartar, dipilih beberapa untuk dijadikan kader. Selanjutnya diajarkan bagaimana screening dan edukasi kepada masyarakan Desa Daliwangun.
”Kedepan akan dilakukan monitoring setiap 2 Minggu sekali untuk mengevaluasi keberlanjutan kegiatan MENTOS ini,” pangkas Riris. (hari)











