BIDIK NEWS | JEMBER – Tentu saja siapapun tidak ingin hidup melarat atau serba kekurangan. Malah sebaliknya, semua manusia ingin hidup berkecukupan. Seperti yang dialami Suah (62 th) misalnya, nenek yang saat ini tinggal di Dusun Krajan I, RT 003/RW 029 Desa Kasian Timur Kec. Puger, Kab. Jember yang sehari-hari hidupnya bertani.
Untuk bertahan hidup dari cuaca hujan dan panas, bersama anak dan cucunya, Suah tinggal dirumah kecil yang kondisinya jauh dari layak huni. Itupun rumah menumpang di tanah milik tetangganya.
Saat di temui wartawan bidik di rumahnya, Minggu (13/1), nenek Suah tidak terlihat putus asa dan bersedih atas kondisinya saat ini. Dia malah bersyukur. “Alhamdulillah, nenek masih bisa bekerja walaupun seringkali sakit-sakitan,” ujarnya.
Untuk menyambung hidup, sehari-hari Suah bekerja menanam padi dengan imbalan upah sebesar Rp 20 ribu perhari. “Kalau mau dapat lebih harus ikut menanam sampai sore,” katanya.
Ditambahkan Suah, dulu dirinya pernah mendapat bantuan beras dari pemerintah Jember. “Tapi sekarang tidak lagi, tidak tahu apa sebabnya bantuan berasnya koq mandeg ?,” ujar Suah yang mengaku enggan nenanyakan ke pemerintah perihal putusnya bantuan beras selama ini.
“Saya sudah tua, malu kalau mau meminta- minta beras ke pemerintah. Selagi saya kuat, lebih baik saya bekerja,” ucapnya polos dan membuat terenyuh setiap orang yang mendengarnya.
Sangat ironis memang, dimana saat ini begitu gencarnya program bantuan yang di gelontorkan oleh Pemerintah Jember terhadap warganya yang hidup dibawah garis kemiskinan. Tapi amat sangat di sayangkan, masih banyak orang-orang yang luput dari bantuan tersebut.
Kemanakah larinya aliran program bantuan tersebut ?, apakah sudah tepat sasaran ?. Semoga pemerintah Jember secepatnya mendengar, melihat, merasakan dan segera ada tindakan atas kejadian yang dialami Suah. (monas)











