SURABAYA – Dr Ir Jamhadi, MBA, Direktur Kadin Institute di bawah kepemimpinan La Nyalla Mahmud Mattaliti menggelar pertemuan dengan delegasi bisnis Singapura yang dipimpin Mr Dato’ Seri Douglass Foo, yang juga Chairman Singapore Manufacturing Federation (SMF).
Dalam pertemuan itu, hadir pula Mr Harry Sunogo (Konsul Kehormatan New Zealand yang juga CEO PT Sekar Laut, Tbk), I Gede Ngurah Swajaya (Dubes Indonesia untuk Singapura), Barlianto (Atase Ekonomi), serta Hadisusilo dari PT Sekar Laut Tbk perwakilan di Singapura.
Sedangkan rombongan delegasi Singapura yang dipimpin Mr Douglass diantaranya Emmeline Lam (Senior Director Singapore Manufacturing Federation), Teo Eng Cheong (CEO International SJ), Hanif M Nomanbhoy (Director Nomanbhoy & Sons PTE, Ltd), Andrew R Tuah S.H, LLB (Hons) dari London dari DAU & TUAH Advocate & Soliticors, dan Patrick Tuah (Head, Practice Development & Finance dari Angeline Suparto Law Corporation).
Di hadapan Delegasi Singapura dan Dubes Indonesia untuk Singapura, Jamhadi menyampaikan beberapa program Kadin Institute. Salah satunya di bidang riset dan peningkatan kompetensi SDM. Dengan SDM terampil yang dimiliki Jatim, Jamhadi meyakinkan pengusaha Singapura, bahwa tak perlu khawatir untuk produktivitas tenaga kerja jika berinvestasi di Jatim.
Selain itu, Jamhadi memberikan testimoni tentang kemudahan berbisnis di Jatim. Mengurus izin usaha, kata Jamhadi, tak butuh waktu lama.
“Mengurus izin usaha sudah memakai OSS (Onlone Single Submission) dan begitu mudah. Setelah register secara online dapat NIB (Nomor Induk Berusaha). Lalu membuat komitmen urus ijin. Maka dalam waktu 3 Minggu, pembangunan konstruksi bisa dimulai dan lancar,” kata Jamhadi, yang juga jadi Tim Ahli Kadin Jatim dan Ketua Kadin Surabaya 2 periode.
Kemudahan berbisnis dan produktivitas itu juga pernah disampaikan Jamhadi saat menerima mahasiswa dari National University of Singapore di Kadin Institute belum lama ini.
Jamhadi juga ingin meningkatkan kerjasama di sektor agrobisnis. Jatim memiliki hasil pertanian dan perkebunan melimpah. Hasil itu bisa ditingkatkan lagi melalui pengembangan riset agar produktivitas pertanian dan perkebunan Jatim meningkat, sehingga harga lebih kompetitif.
“Kami optimis delegasi bisnis Singapura yang dipimpin Mr Douglass terus meningkatkan hubungan bisnis dan research serta digitalisasi 4.0 di Jatim, termasuk di KEK Singhasari. Saat ini Singapura di posisi teratas dalam investasi dari 38 FDI (foreign direct investment) di Jatim dan terus ditingkatkan,” ujar Jamhadi, CEO PT Tata Bumi Raya yang juga Dewan Pembina Ikatan Saudagar Muslim Indonesia (ISMI) Jatim.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) Jatim menyebutkan, nilai ekspor non migas Jatim ke Singapura selama Januari -i Oktober 2019 mencapai USD 1,020 miliar dari total ekspor non migas Jatim mencapai USD 16,136 miliar. Nilai itu naik 17,65% dari periode yang sama tahun 2018 yang tercatat USD 867,241 juta.
Sedangkan nilai impor Januari – Oktober 2019 mencapai USD 563,740 juta dari total impor non migas Jatim sebesar USD 15,596 miliar. Dibanding periode yang sama di 2018, ada penurunan 41,58% atau USD 965,817 juta.











