SURABAYA | BIDIKNEWS – Dunia pekerjaan sedang mengalami masa transisi di mana lebih dari 50-70% karyawan penggerak perusahaan adalah Generasi Milenial, atau mereka yang lahir antara 1981-1996. Perbedaan usia, perspektif dan cara pandang antara Gen X sebagai angkatan kerja pendahulu dan generasi milenial menjadi tantangan yang membuat perusahaan seringkali kesulitan merekrut dan mempertahankan karyawan Milenial.
Salah satu kesulitan yang dihadapi kebanyakan perusahaan adalah menjamin loyalitas karyawan Milenial terhadap perusahaan. Berdasarkan Deloitte Millennial Survey 2018, 43% milenial berencana berhenti dari tempat kerja mereka dalam kurun waktu 2 tahun. Dan hanya 28% yang berencana menetap dengan perusahaannya saat ini sampai lebih 5 tahun.
Kepada media, Haryo Utomo Suryosumarto, Founder & Managing Director Headhunter Indonesia menyebutkan, dari hasil survei Headhunter Indonesia terhadap 217 generasi milenial di Pulau Jawa, terdapat sejumlah faktor utama yang menyebabkan milenial tidak bertahan lama dan akhirnya membuat angka turnover perusahaan menjadi tinggi.
Antara lain, disebutkan Haryo, milenial merasa kurang mendapat pelatihan dan pengembangan diri. Mereka berasumsi cara untuk mengembangkan potensi diri adalah dengan berpindah tempat kerja yang dirasa lebih baik. “Kurangnya kepercayaan dari para manajer senior terhadap Milenial. Milenial tidak merasakan nilai dan visi misi perusahaan diterapkan dalam pekerjaan sehari-hari. Serta Milenial merasa sulit berkomunikasi dengan atasannya yang berasal dari Gen X,” ujar Haryo, Kamis (2/5/2019).
Untuk itu, konsultan SDM Headhunter Indonesia memiliki tips bagi perusahaan di Surabaya dan Jatim yang ingin merekrut atau mempertahankan karyawan Milenial. “Banyak perusahaan salah paham menarik perhatian milenial dengan membangun playground di kantor. Padahal menurut survei kami, bukan itu yang akhirnya membuat karyawan milenial bertahan”, katanya.
Survei Headhunter Indonesia 2018, lanjutnya, menemukan setidaknya ada 3 prioritas utama yang harus dilakukan perusahaan di Surabaya dan Jatim untuk bisa sukses merekrut dan mempertahankan karyawan Milenial.
Yaitu menciptakan persahabatan. Faktor terpenting yang membuat Milenial bertahan di tempat kerja adalah memiliki sahabat di tempat mereka bekerja. Memiliki hubungan seperti seorang sahabat dalam satu perusahaan membuat karyawan milenial makin setia. Membangun hubungan yang tidak kaku perlu dimulai dari level manajemen senior, supaya bisa menular dengan cepat pada seluruh karyawan.
Selanjutnya menyediakan ruang untuk milenial berkarya dan memberikan yang terbaik. Generasi milenial memberi nilai tambah kepada pekerjaan yang bisa mendorong mereka untuk mengembangkan diri. Mereka lebih tertarik dengan pekerjaan yang memberikan kebebasan untuk mengembangkan kreativitas dan ide-ide baru, dan cenderung menganggap pekerjaan yang monoton sebagai kurang menarik.
Serta melibatkan dan menjadikan Milenial bagian dari kesuksesan perusahaan. “Karyawan milenial perlu merasa terlibat sebagai bagian penting dari perusahaan, dan ingin melihat hasil kerja mereka berdampak riil bagi kemajuan perusahaan. Manajemen harus mengkomunikasikan dengan baik bagaimana perusahaan terbantu oleh pekerjaan yang dikerjakan oleh para Milenial setiap harinya,” pungkas Haryo. (hari)











