BIDIK NEWS | BANYUWANGI – Sisa 46 hari jelang Pemilu yang jatuh tepat pada 17 April mendatang, sejumlah lembaga survey terus melakukan penghitungan, memperkirakan siapa yang akan menang dalam pemilihan Presiden dan Wakil Presiden.
Calon petahana nampaknya masih memimpin, tapi bukan berarti Prabowo selaku penantang tidak memiliki kemungkinan menang. Itu di buktikan dengan survey atau polling yang di adakan pengguna sosial media juga beberapa media massa.
Belum lagi munculnya para relawan di berbagai daerah yang mulai bergerilya ke masyarakat dan bahkan mendirikan Posko pemenangan. Sebut saja di Glenmore, Kalibaru, Muncar, Genteng, Banyuwangi yang berdiri dipinggir pinggir jalan.
Sedangkan Jokowi harus memastikan pendukungnya benar benar mau berjuang dan memilihnya, karena petahana diuntungkan banyak faktor.
Mulai kebijakan selama memimpin yang memihak ke rakyat, banyak partai pendukung dan tentu petahana mungkin telah menang hati para pemilih potensial dengan membangun jalan, bandara, bendungan. Dan ekonomi bagaimanapun adalah kartu yang bisa di mainkan.
Sedangkan Prabowo di untungkan oleh gerakan suka relawan rakyat. Kritik Prabowo terhadap kebijakan ekonomi Jokowi di suarakan secara agresif oleh pasangannya, yaitu Sandiaga Uno.
Banyak pihak mengakui strategi kampanye Sandiaga telah membuat dia disayang millenial dan emak emak, dan juga menghadirkan seorang politikus yang otentik.
Banyak pihak Mengatakan kalo Pilpres kali ini pertarungan Jokowi dan Sandiaga Uno, Saya pun bisa memahami itu.
Fakta real saat ini di lapangan yang menjadi ikon dari kedua kubu, Pertarungan pilpres ini seakan hanya diramaikan oleh gerakan Sandiaga Uno di paslon 02 dan di paslon 01 hanya sosok Jokowi selaku petahana. Bukan mengabaikan pasangannya masing masing, tetapi inilah fakta saat ini yang berkembang.
Seandainya Prabowo tidak berpasangan dengan Sandiaga Uno mungkin saja pertarungan tidak seramai saat ini.
Pertarungan dua pasangan ini seakan pertarungan yang sangat menarik bagi Jokowi dan Sandiago, dimana Jokowi selaku petahana memiliki kelebihan yang tidak dimiliki oleh pasangan 02. Sebagai petahana, Jokowi bisa dibilang telah unggul dari segi popularitas, selaku presiden saat ini tetapi masih belum aman untuk jadi pemenang di 17 April 2019 nanti.
Langkah kampanye Jokowi blusukan ke pasar-pasar menjadi pertanda segmen masyarakat bawah akan disolidkan oleh paslon 01. Begitu juga paslon 02 yang dimotori Sandiaga Uno malakukan blusukan ke pasar-pasar untuk mencari input ketimpangan harga-harga yang menurut paslon 02 harga tidak stabil dan cenderung memberatkan pedagang dan konsumen atau rakyat, soal kesejahteraan ekonomi yang lagi didengungkan oleh Sandiaga Uno.
Fenomena kedua kubu ini seakan saling berebutan suara yang notabene kaum perempuan yang menggunakan jasa pasar, atau kalau istilah sekarang dengan nama emak-emak, tidak heran segmen emak- emak yang sama-sama diperebutkan oleh kubu Jokowi maruf dan kubu Prabowo sandi.
Tidak hanya dikelompok emak-emak, perebutan hati pemilih Jokowi dan Sandiaga uno di kelompok milenial, dua kubu saling berebut untuk mendapatkan simpati atau dukungan kaum milenial dengan menonjolkan beberapa karakteriatik kegiatan yang mengarah pada kelompok milenial, kedua kubu berbalas simbol millenial, Jokowi atau Sandi yang akang dipilih oleh kaum millenial, yang pasti kaum milenial memiliki karakteristik yang jauh lebih labil soal pilihan tetapi mereka akan bersikap lebih jujur dan apa adanya.
Pertarungan disisa waktu kampaye ini dan ada 2 debat lagi masih memunculkan ke was- wasan bagi incumbent dan menambah semangat bagi penantang untuk saling mengalahkan disisa waktu kampanye ini, kalau dilihat dari pergerakanya kedua kubu akan saling mengalahkan, pertarunganya mereka harus saling cepat mengunci keberpihakan masyarakat yang telah tetap memilih untuk tetap solid dan memenangkan kandidatnya.
Kita menungu 17 April, apa kita dapat presiden baru atau presiden Jokowi memimpin kedua kalinya, tentu semua kita berharap pesta demokrasi ini berjalan lancar, siapapun pemenangnya akan membawa Indonesia lebih baik lagi.
Penulis : Danu Budiyono (Pemerhati Sosial Politik Banyuwangi)











