SURABAYA l bidik.news – Wakil Ketua DPRD Provinsi Jawa Timur dari Fraksi Partai Golkar, Blegur Prijanggono, menyoroti sejumlah dinamika dan tantangan terkait pelayanan publik di Kota Surabaya. Hal tersebut disampaikannya berdasarkan temuan dan aspirasi warga dari enam titik reses yang baru saja ia gelar di daerah pemilihan (Dapil) Kota Surabaya.
Menurut Blegur, Surabaya memiliki karakteristik permasalahan yang unik dan sangat berbeda dibandingkan dengan kabupaten atau kota lain di wilayah Jawa Timur. Perbedaan mendasar ini dipicu oleh tingginya tingkat kepadatan dan mobilitas penduduk. Ia mencatat, populasi yang beraktivitas di Surabaya pada siang hari bisa melonjak hingga mencapai 4 sampai 5 juta jiwa, sementara pada malam hari berada di kisaran 3 juta jiwa.
“Permasalahan di Kota Surabaya itu pasti berbeda dengan permasalahan yang ada di daerah lain di Jawa Timur karena faktor Surabaya sebagai salah satu kota terpadat. Namun, dari hasil reses, keluhan utama dari masyarakat selalu bermuara pada satu hal yang sama, yaitu tentang pelayanan masyarakat,” ungkap Blegur pada Jumat ( 31/7/2026 ).
Lebih rincinya, ia menjelaskan bahwa mayoritas warga menuntut adanya perbaikan dan kemudahan dalam mengakses layanan dasar.
Beberapa isu krusial yang dominan diutarakan oleh masyarakat antara lain adalah persoalan desil (data pengelompokan kesejahteraan masyarakat untuk bantuan sosial), optimalisasi layanan BPJS Kesehatan, hingga akses dan kebijakan pendidikan di tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA). Selain itu, masalah infrastruktur seperti banjir yang masih kerap melanda wilayah-wilayah tertentu juga turut dikeluhkan.
Sebagai wakil rakyat dari Dapil Surabaya, Blegur menegaskan komitmennya untuk terus mengawal aspirasi tersebut. Ia menyatakan akan memberikan masukan secara langsung kepada Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya, khususnya kepada Wali Kota Surabaya, agar persoalan warga dapat segera ditindaklanjuti.
Menariknya, dalam kesempatan reses tersebut, Blegur juga mendorong warga Surabaya untuk lebih proaktif dalam menyampaikan keluhan dengan memanfaatkan kemajuan teknologi. Ia mengimbau masyarakat untuk tidak ragu menggunakan media sosial sebagai sarana pengaduan langsung terkait pelayanan publik kepada kepala daerah.
“Saya juga menyampaikan kepada warga Kota Surabaya untuk bisa mengutarakan aspirasinya kepada Wali Kota Surabaya melalui media sosial. Karena kita melihat bahwa Wali Kota beserta Wakil Wali Kota selalu aktif menyampaikan program maupun respons pelayanan publiknya melalui platform seperti TikTok,” jelasnya.
Pada penutupnya, politisi Fraksi Golkar ini menyimpulkan bahwa dari setiap kunjungan di enam titik reses tersebut, temuan terkait problematika pelayanan publik akan selalu ia himpun dan sampaikan secara konsisten kepada pihak eksekutif Pemkot Surabaya untuk mendorong evaluasi kebijakan yang lebih baik. ( Rofik )











