SURABAYA – Laskar Sholawat Nusantara (LSN) menggandeng pihak PTPN XII untuk membantu Pemprov Jawa Timur di sector pengentasan kemiskinan pada petani perkebunan di Jawa Timur.
Alasanya,angka kemiskinan di Jawa Timur masih tinggi ternyata ada di sector petani perkebunan dan hutan.
Menurut Presiden LSN, Mohammad Fawaid,salah satu daerah yang banyak kemiskinan adalah ada dipinggir yaitu pada petani perkebunan.” Hutan dan kebun di Jawa Timur mayoritas dikelola oleh BUMN. Oleh sebab itu, LSN menggandeng PTPN XII untuk membantu pengentasan kemiskinan di Jawa Timur,”jelas pria yang juga ketua Fraksi Gerindra DPRD Jawa Timur, Jumat (3/6/2022).
Pria yang akrab dipanggil gus Mufa ini,alasan dilibatkan BUMN untuk membantu pengentasan kemiskinan, agar BUMN tidak tutup mata akan kondisi kemiskinan petani perkebunan di Jawa Timur.
“Untuk pengentasan kemiskinan harus melibatkan semuanya. Tak hanya menggunakan APBD maupun APBN tidak cukup untuk pengentasan kemiskinan,” jelas pria asal Jember ini.
Untuk pengentasan kemiskinan tersebut, ujar ketua TIDAR Jawa Timur ini, harus ada sinergitas program dengan duduk bersama antara pemda dengan BUMN dengan harapan program tersebut mengena sasaran untuk masyarakat yang dipinggiran khususnya masyarakat dipinggir hutan maupun perkebunan.
Mufa lalu mengambil contoh ketika Pemprov ingin membantu masyarakat dipinggir hutan atau perkebunan, bisa melibatkan BUMN untuk membantunya. “Angka kemiskinan disektor perkebunan atau hutan adalah buruh perkebunan. Mereka ini tidak bisa berkembang karena tak punya lahan. Oleh sebab itu perlu ada sinergitas antara Pemprov dan BUMN,” jelasnya.
Salah satu contoh pelibatan BUMN untuk pengentasan kemiskinan, kata Fawaid, adalah BUMN bisa menggandeng koperasi atau kumpulan masyarakat untuk membuat KSU (Kerjasama Usaha) secara professional).
“Harapannya kalau dikelola professional, bisa menciptakan lapangan pekerjaan bagi buruh perkebunan dan hasilnya bisa dimanfaatkan membantu masyarakt perkebunan itu sendiri. Misalnya membangun fasilitas kesehatan, pendidikan maupun fasilitas olahraga. Semua pasti tahu kalau semua itu ditingkat pinggiran masih kurang,” terangnya.
Selain itu, kata pria asal Jember ini, hasil kerjasama tersebut, selain membantu penyediaan fasilitas tersebut, bisa juga digunakan untuk melakukan pelatihan maupun pembinaan UMKM untuk masyarakat pinggir perkebunan atau kehutanan.
“Ini tugas bersama dan tanggungjawab bersama, bukan hanya Pemprov saja. BUMN juga harus ikut bertanggung jawab dalam pengentasan kemiskinan di Jawa Timur. Harapan didirikan BUMN itu bukan memberikan pendapatan Negara namun, juga harus bisa mensejahterakan bagi masyarakat pinggiran perkebunan dan hutan dan harapannya bisa pengentasan kemiskinan,” jelasnya.
Fawaid lalu mencontohkan di kabupaten Jember, angka kematian anak dan kekurangan gizi anak termasuk ibu hamil berada dikawasan perkebunan dan hutan, oleh sebab itu, sentuhan BUMN sangat diperlukan untuk pengentasan kemiskinan tersebut. (rofik)











