SURABAYA | bidik.news – Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Universitas Airlangga (Unair) bekerja sama dengan Rumah Sakit Hewan (RSH) Unair menggelar kegiatan “Pengendalian Populasi Kucing di Lingkungan Kampus Unair” melalui program kastrasi kucing liar. Kegiatan ini berlangsung 3 hari, mulai 3 – 5 Januari 2026 di RSH Unair
Dekan FKH Unair, Prof. Dr. Lilik Maslachah drh., M.Kes., menyampaikan,
kegiatan ini bagian dari rangkaian Dies Natalis FKH Unair ke-54, sekaligus merespons atas keluhan mahasiswa terkait meningkatnya populasi kucing liar di lingkungan kampus A, B, dan C Unair. Serta lahir dari aspirasi mahasiswa dan hasil hearing pimpinan fakultas dengan Rektor Unair.
“Permasalahan kucing liar ini sudah lama dikeluhkan mahasiswa. Setelah disampaikan dalam hearing dengan pimpinan kampus, Pak Rektor memberi kewenangan ke FKH untuk mengatasi persoalan tersebut. Maka dalam rangka Dies Natalis ke-54 ini, kami melaksanakan kegiatan kastrasi kucing selama tiga hari,” ujar Prof. Lilik, Minggu (4/1/2026).
Dalam kegiatan ini, FKH Unair menargetkan kastrasi terhadap sekitar 30 – 50 ekor kucing jantan liar yang berada di lingkungan FKH, FK, FKG serta area kampus Unair lainnya. “Kucing yang ditangani adalah kucing liar yang ada di lingkungan kampus. Setelah dilakukan operasi, kucing akan dilepas kembali. Namun jika ada yang ingin mengadopsi, tentu kami persilakan,” jelasnya.
Ia menegaskan, kucing yang telah dikastrasi tidak lagi memiliki kemampuan reproduksi, sehingga dapat menekan pertambahan populasi secara signifikan dan berkelanjutan.
Selain persoalan populasi, Prof. Lilik juga menyoroti risiko kesehatan yang ditimbulkan oleh kucing liar, salah satunya adalah penyakit zoonosis seperti toksoplasmosis yang dapat menular ke manusia.
“Keberadaan kucing liar bukan hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga berpotensi menularkan penyakit ke manusia. Karena itu, kegiatan ini juga menjadi bagian dari upaya pencegahan penyakit,” tegasnya.
Ke depan, FKH Unair juga akan melaksanakan Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) ke masyarakat di tingkat kecamatan untuk meningkatkan kesadaran tentang kesehatan hewan dan hubungan erat antara kesehatan hewan dan manusia.
Sementara itu, Wakil Direktur Rumah Sakit Hewan Unair, Dr. Nusdianto Triakoso drh., M.P., menjelaskan, pengendalian populasi kucing merupakan langkah penting yang harus dibarengi dengan edukasi kepada masyarakat.
“Kucing adalah hewan kesayangan, tetapi juga memiliki potensi membawa penyakit zoonosis. Jika populasinya tidak dikendalikan, ini bisa menjadi masalah serius. Karena itu, kastrasi adalah langkah paling efektif,” ujarnya.
Dr. Nusdianto juga menyinggung Peraturan Menteri Pertanian No. 32 Tahun 2025 tentang Kesejahteraan Hewan, yang melarang penelantaran hewan dan menekankan tanggung jawab pemilik terhadap hewan peliharaannya.
“Hewan kesayangan bukan untuk dibuang ketika sudah tidak diinginkan. Ini soal etika, kemanusiaan, dan kesejahteraan hewan. Kami berharap media juga membantu mensosialisasikan pesan ini ke masyarakat,” tambahnya.
Ia menjelaskan, kastrasi kucing jantan dilakukan melalui prosedur medis standar dengan anestesi umum, dan menjadi metode paling efektif untuk mengendalikan reproduksi, karena metode hormonal seperti pada manusia tidak dapat diterapkan pada hewan.
Selain manfaat pengendalian populasi, kastrasi juga memberi dampak positif pada perilaku dan kesehatan kucing, seperti mengurangi agresivitas, kebiasaan berkeliaran, menandai wilayah, serta menurunkan risiko penyakit reproduksi.
Kegiatan ini juga melibatkan dosen, dokter hewan, tenaga paramedis, serta mahasiswa FKH Unair sebagai bagian dari pembelajaran etika, kesejahteraan hewan, dan pendekatan One Health yang menekankan keterkaitan kesehatan hewan, manusia, dan lingkungan.
“Ini adalah pendidikan yang bertanggung jawab dan beretika. Mahasiswa harus memahami bahwa kesejahteraan hewan adalah nilai penting yang harus dijunjung tinggi,” pungkas Prof. Lilik.
Dengan adanya program ini, Unair berharap, pengendalian populasi kucing liar dapat berjalan secara berkelanjutan dan tidak kembali menjadi permasalahan di lingkungan kampus, sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya tanggung jawab terhadap hewan kesayangan.










