BANYUWANGI|BIDIK NEWS – Etape kedua International Tour de Banyuwangi (ITdBI) 2019 menjadi milik rider asal Indonesia, Aiman Cahyadi dari PGN Road Cycling Team.
Etape dengan race terpanjang sejauh 148,2 Km ini berhasil dikuasai Aiman dengan catatan waktu tercepat 3 jam 34 menit 04 detik. Disusul Ismael Jr. Crospe dari tim GO For Gold Philipines diposisi kedua dengan selisih waktu lebih lambat 0,04 detik, dan posisi ketiga diraih rider Team Sapura Cycling Cristian Raelanu.
“Saya bersyukur atas kemenangan ini. Dietape sebelumnya saya selalu berusaha tapi tidak pernah dapat. Kemenangan juga berkat kerja keras tim,” kata Aiman.
Ia mempersembahkan kemenangannya ini untuk mendiang pembalap, M. Taufik, yang meninggal beberapa waktu lalu.
“Sebelum berlaga di ITdBI kali ini saya bernadzar, jika saya menang etape, hadiahnya buat Mas Taufik. Alhamdulillah Tuhan memberikan kelancaran,” ungkap Aiman.

Meskipun memenangkan etape kedua, Aiman belum berhak atas Best Indonesian Rider (Red and White Jersey). Posisi Best Indonesian Rider masih tetap milik Selamet Juangga karena dietape kedua ini finish diurutan delapan.
“Dietape ini berat sekali, terutama di kilometer 125 dan 138, ditambah turunan yang berat dan rolling -rolling menuju fonish,” ujar Selamet Juangga.
Untuk raja tanjakan (Polka Dot Jersey) diraih Marcos Garcia Fernandez dari Kinan Cycling Team, sedangkan untuk Best Sprinters (Green Jersey) masih menjadi milik pembalap Mongolia Merel Erdene Bathmunkh dari Terengganu INC TSG Cycling Team.
Setelah etape kedua ini, posisi klasemen sementara atau peraih Yellow Jersey mengalami perubahan, dari Merel Erdene Bathmunkh beralih kepada Jesse Ewart dari Team Sapura Cycling.
Jesse yang dietape pertama kemarin finish diposisi ketiga, dietape kedua ini berhasil mempertahankan irama balapannya dengan berada di urutan keempat. Total waktu yang dicatatkan Jesse 6 jam 37 menit 48 detik.
“Ini lomba yang sangat berat, tapi bagus sekali karena suasananya sangat indah,” kata Jesse Ewart.
Dietape kedua ini, lanjut Ewart, tidak bisa membuat startegi, namun ada kiat khusus, karena turunannya merupakan turunan yang terberat, sehingga kalau pembalap tidak kuat, tentunya tidak akan lagi berada dalam tour ini.
“Saya melihat, taktik ini akan saya jalankan sesuai dengan situasi lomba,” pungkas Ewart.(nng)











