BIDIK NEWS | JAKARTA – Inilah bagian tapakan kaki kehidupan sosok lelaki sederhana, putra asli Pelosok Pinggiran Utara Sungai Brantas Desa Betro, Kec. Kemlagi, Kab. Mojokerto, Jawa Timur. Yakni dr. Ali Mahsun, M. Biomed, Ketua Umum DPP APKLI, Presiden Rakyat Kecil/Kawulo Alit Indonesia.
Perjalanan hidup manusia, demikian pula perjalanan dari suatu bangsa tidak akan pernah lepas dari kehadiran Sang Maha Agung, Tuhan Yang Maha Kuasa, Allah Swt. Adalah hal diluar nalar manusia, hidup dalam lingkungan serba terbatas yang secara scientific seputaran pertumbuhan dan perkembangan sel otak manusia kurang dan atau tidak memadai.
Hanya atas kejaizan Allah SWT, seorang Ali Mahsun dimampukan lulus dokter dengan predikat cumlaude (S.Ked.)/lulusan terbaik di Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya (Unibraw) Malang Angkatan 1989 hingga meraih Magister Biomedik (M. Biomed.). Serta Kekhususan Imunologi (Kekebalan Tubuh) dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) Jakarta.
Bagi dr. Ali, sapaan akrabnya, tak ada rencana sedikit pun dalam hidupnya untuk memimpin 25 juta PKL se Indonesia mengemban amanah sebagai Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Asosiasi Pedagang Kaki Lima Indonesia (DPP APKLI) sejak 2011 hingga saat ini melalui Munas IV APKLI 2011 di Semarang Jawa Tengah dan Munas V APKLI 2017 di Graha Insan Depok Jawa Barat.
“Terjalani mengalir laksana aliran air sungai brantas dan air lautan dengan tulus dan ikhlas untuk taburkan kemanfaatan yang didarma bhaktikan hanya untuk Merah Putih, NKRI dan Nusantara Indonesia,” ujarnya, Sabtu (20/10).
Semua leluhur saat ini sumringah (bahagia), karena dr. Ali berjuang dilapak PKL, berjuang diseputaran nasib dan masa depan kehidupan rakyat kecil/kawulo alit (orang jebol) yang merupakan “sejatine perjuangan hidup”. Minta atau tidak meminta, segenap leluhur nusantara, segenap leluhur bangsa atas kehendak dan ridho Sang Maha Agung, Allah Swt akan mendampingi dan membantu perjuangan dr. Ali.
“Jangan pernah ragu, tidak boleh takut apa pun, apapun resikonya, lanjutkan perjuangan untuk melindungi, mensejahterakan dan mencerdaskan secara berkeadilan bagi rakyat kecil/kawulo alit untuk Merah Putih, NKRI dan Nusantara Indonesia,” ujar dr. Ali bersemangat.
Itulah wejangan dari sesepuh leluhur kepada dr. Ali pada 26 Desember 2011, Senin dini hari (pukul 03.30 WIT) di Mataram Lombok Nusa Tenggara Barat (NTB).
“Saya yakin, bahwa kawulo alit yang hidupnya serba terbatas, seringkali dibawah tekanan, bahkan tidak jarang harus mengalami tindakan penindasan (laksana tiarap didasar jurang). Memiliki karakter dan jati diri yang sangat kokoh, tidak pernah mencari jalan pintas, tak kenal lelah, tak kenal siang, malam atau dini hari, tak kenal hujan dan kepanasan,” terangnya.
Bahkan tak pernah takut apapun terus dan tetap berjualan/bekerja untuk mengail rezeki halal guna menafkahi keluarga dan membiayai sekolah anak-anak mereka (kepalanya hampir menyentuh langit).
Apa yang diwasiatkan Raden Wijaya, pendiri dan Raja Majapahit, orang Jebol tiarap didasar jurang namun kepalanya hampir menyentuh langit akan terwujud sebagai cetak biru (blue print) yang mengantarkan era Nusantara Indonesia.
“Saya yakin, dari mereka lah diturunkan Tuhan sosok pemimpin besar ksatria dan sejati untuk menggapai kejayaan Nusantara Indonesia,” pungkas dr. Ali.









