BIDIK NEWS |Kota Batu–Bank Jatim terus memacu kucuran kredit bagi pelaku usaha di Kota Batu. Pada saat peresmian kantor baru Bank Jatim Cabang Batu, Dirut Bank Jatim, H.R. Soeroso mengatakan angka pengajuan kredit di Bank Jatim masih rendah. Sebaliknya, rasio dana murah atau current account and saving account (CASA) mencapai 95 persen yang digalang dari total 2 juta nasabahnya. Dari jumlah seluruh nasabahnya, Bank Jatim membukukan nilai asset sejumlah Rp. 654 miliar.
Soeroso mengatakan, laba yang diperoleh pelaku usaha ditabung dalam bentuk deposito sebagai cash collateral credit. Ia menambahkan suku bunga kredit yang ditawarkan Bank Jatim relatif kecil senilai 2 persen dibandingkan dengan bank-bank lainnya. Hingga kini, jumlah angka kredit gabungan yang dicairkan sebesar Rp. 405 miliar.
“Jadi laba yang diperoleh jangan terus menerus diputar sebagai modal, tapi perlu ditabung dalam bentuk deposito. Pelaku usaha dapat mengajukan kredit,” urai Soeroso usai meresmikan pembukaan kantor baru Bank Jatim Cabang Batu (Rabu, 17/10).
Dibukanya kantor cabang baru, Soeroso berharap Bank Jatim dapat memberikan pelayanan prima bagi nasabah Bank Jatim di Kota Batu. Untuk lebih meningkatkan pelayanan optimal, Bank Jatim berinovasi dalam pelayanan berbasis aplikasi.
“Masyarakat dapat melakukan transaksi melalui jaringan internet tanpa perlu repot-repot ke bank. Fitur-fitur SMS banking hingga e-banking sudah tersedia untuk memudahkan para nasabah,” terang dia.
Dalam kegiatan tersebut, Bank Jatim menyerahkan CSR berupa dana pengembangan dan pembangunan taman interior jalan di Kota Batu melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Batu. Total CSR di seluruh Jawa Timur yang dikucurkan Bank Jatim senilai Rp. 19 miliar.
Sementara itu, Walikota Batu Dewanti Rumpoko menyampaikan perlu memacu debitur dari segmen pelaku usaha. Fasilitas pinjaman bank perlu dimanfaatkan untuk mengembangkan skala usahanya.
“Kredit bukan memberatkan tapi perlu disadari sebagai hutang produktif,” timpal Dewanti.
Oleh karena itu, Dewanti mengatakan, Pemkot Batu akan menyosialisasikan kepada pelaku UMKM agar memenuhi kriteria kelayakan kredit perbankan. Rendahnya angka kredit di Kota Batu salah satunya juga disebabkan UMKM belum memenuhi kriteria dalam mengajukan kredit.
“Makanya saat ini pemkot merumuskan secara teknis agar pemerintah bisa menjadi jaminan kredit bagi UMKM. Selama ini UMKM mungkin jarang berhubungan dengan bank. Pembukuannya belum punya, belum bisa, nanti dibina dulu baru kemudian terakses ke bank,” papar Dewanti. (Did)










