MAGETAN – Guna mendukung pencapaian target program TB nasional, yang sempat dihadiri dari Tim Provinsi Jatim. Dinkes kabupaten Magetan mengadakan sosialisasi dan penyuluhan terhadap siswa siswi ponpes di beberapa wilayah kabupaten Magetan.
Demikian Agoes yudi purnomo, SKM,MPH Seksi P2PM (pencegahan pengendalian penyakit menular), mewakili Kepala Dinkes kabupaten Magetan Dr. Rahmat Hidayat, pada Senin (20/12/21).
Dalam rangka pencarian masyarakat penderita TB, maka diselenggarakan kegiatan skrining untuk penemuan kasus Tuberculosis di lokasi khusus, misalnya di pondok pesantren.
”Tim Dinas Kesehatan Kabupaten Magetan yang dibantu kader desa terlibat langsung skrining pada sejumlah pondok pesantren yang berlokasi di desa Pule, Temboro, Kecamatan Karas juga Panekan dan ponpes yang lain,” kata Agoes.
Menurut Agoes, pemilihan lokasi penyuluhan ke ponpes berdasarkan laporan, masih adanya kasus TB dalam pengobatan atau pernah ditemukan kasus dan ponpes dengan jumlah santri yang banyak.
”Sample skrining dilakukan pada 200 santri sesuai ketersediaan kuota. Masa pandemi kuota untuk oprasional TB menurun dan rendah karena banyak terserap ke arah COVID-19,” ujarnya.
Dijelaskan, TBC lebih berbahaya dibanding COVID-19. TBC penyakit menular dari kuman yang menahun. Dan semenjak pandemi temuan TB di masyarakat sangat rendah antara 20% – 30%. Hal ini jadi perhatian untuk anggaran tahun depan bisa dimaksimalkan jangan sampai redanya COVID muncul TBC merajalela.
Ketika diadakan skrining, ditemukan 22 suspect TB. Sampel dahak diperiksa menggunakan TCM, alat medis yang sudah dimiliki Kabupaten Magetan, yang hasilnya bisa langsung diketahui dan lebih canggih dari alat mikroskop.
Tim juga memberikan asesment kualitas sanitasi gedung dan bangunan pondok pesantren serta penyuluhan kepada seluruh santri dan pengasuh tentang penyakit tuberculosis dan cara pencegahannya. Karena prasarana bisa menunjang ada tidaknya muncul kuman, sarana dan prasarana ponpes yang lebih bersih dan layak bisa mencegah munculnya kuman yang menyerang para santri.
Hasil skrining di ponpes Magetan ditemukan 1-2 % positif terkena TBC, langkah yang diambil oleh Dinkes mengarahkan ke puskesmas terdekat dengan pengobatan atau minum obat tanpa henti dampai 6 bulan. Hal minum obat yang jadi kendala bagi penderita, sampai lupa maka kembali pengobatan awal dan lebih lama lagi. Maka diturunlan kader desa untuk mendampingi, mengingatkan jangan sampai lewat minum obat,
Agoes juga menjelaskan, para santri ponpes atau pengasuhnya yang kena TBC positif, biasanya dipisah dari santri lain atau kebijakan dianjurkan cuti selama penyembuhan. Pada bulan pertama dan ke-2, penderita masa penyembuhan, muncul sakit parah dengan muntah darah dan sebagainya.
”Maka penderita sebelumnya di beri pemahaman, memang seperti itu proses penyembuhan, tidak perlu takut, bulan berikutnya akan lebih membaik asal obat tidak terlewati,” jelasnya.
Menurut Agoes, dengan pemberitaan TB di media seperti apa Dinkes mengadakan penyuluhan, maka diharapkan pembaca bisa memahami, terkait penyembuhan TBC bisa difahami masyarakat awam. ”Untuk menambah pengetahuan saat menghadapi serangan kuman TBC,” pungkasnya. (eko)
,










