SURABAYA – Pengurangan distribusi Bahan Bakar Minyak (BBM) khususnya premium dan solar oleh Pertamina di beberapa SPBU yang ada di Surabaya, diantaranya Jalan Kenjeran, Jalan Gresik dan Jalan Kalianak menuai protes dari salah satu pemilik SPBU yang ada di Surabaya.
Pasalnya, tidak adanya pemberitauan tertulis dari pihak Pertamina perihal adanya pengurangan BBM tersebut. Ironisnya di tempat lain, yakni di SPBU Jalan Margorejo, Kertajaya, Ngaglik, Mayjend Sungkono, HR Muhamad dan Perak Barat, tidak ada pengurangan kuota sama sekali. Sehingga adanya dugaaan permain antara pihak Pertamina dengan pengusaha SPBU.
Berdasarkan informasi yang didapat dari narasumber yang tidak mau disebutkan jati dirinya mengatakan, semua pemilik SPBU dilarang ngomong soal kuota, kalau kosong tidak boleh bilang kosong dan bensin habis tidak boleh ditempeli kertas, sekarang tidak boleh sama pertamina.
“Kalau ditanya konsumen, bilang saja bos saya nebusnya kurang. Jadi pemilik SPBU mengaku seolah olah kesalahan SPBU itu sendiri,” ucap nara sumber kepada BIDIK, Jumat (13/3/20) menirukan ucapan dari pihak Pertamina.
Masih kata Narasumber BIDIK, dan itu sudah pernah tak coba, misalkan Pertamina kasih jatah saya 8 ton (8.000 liter/hari) terus tak tebus 16 ton, dengan kelipatan 8 ton perhari. Itu tidak dikirim yang dikirim hanya 8 ton saja.
“Dan yang 8 ton tidak dikasih dan uang tidak kembali, dikonpensasikan ke besoknya,” ujarnya.
Lebih lanjut dia menambahkan, kalau dulu penjualan premium bebas, sejak adanya peraturan dari Pertamina. Kalau SPBU yang jual premium harus dua nozel ( dua selang), satu SPBU dua nozel. Saya kasih contoh SPBU punyaku yang ada di jalan Kenjeran paling banyak penguna sepeda motor dan 90 persen penguna premium.
“Setelah itu tidak boleh pakai dua nozel, cukup satu nozel saja, terus tak ganti satu nozel. Kemudian muncul lagi peraturan, satu minggu hanya di kirim satu kali, dua kali. Tapi ada SPBU yang dikirim tiap hari dan boleh dua nozel, kan itu ngak adil dan diduga ada permainan,” terangnya.
Wilayah SPBU yang tidak ada pengurangan distribusi BBM diantaranya, Margorejo, Kertajaya, Ngaglik, Mayjend Sungkono, HR Muhamad dan Perak, ini yang punya satu orang. SPBU nya kalau ngak salah ada 7 – 8 yang ada di Surabaya, dan dikirim terus setiap hari.
“Kalau punyaku, ada yang dikirim 1 minggu sekali, ada yang 1 minggu dua kali. Cuma aku ngak ingat mana yang dikirim satu kali atau dua kali, padahal aku pesanya per hari, karena yang paling laku premium,” ungkapnya.
Lebih lanjut dia menerangkan, kalau premium kita bisa jual per hari 8 ton, itu yang premium dan untuk solar yang ada di SPBU Kalianak ini, yang bikin aku kesal. Untuk solar di SPBU Kalianak bisa laku per hari 40 ton, tapi dikirim 24 ton terus bagaimana.
“ini sekarang masih jualan, barusan aku telpon sekitar lima menit lalu, katanya solar tinggal 4 ton dan solar habis ngak bisa jualan lagi. Kemarin jam 11 juga habis ngak jualan lagi, ” keluhnya.
Masih menurut sumber, kita pernah ke Pertamina menyembah-nyembah tetap saja ngak dianggap. Tapi ada pom bensin (SPBU, red) pengiriman 60 ton per hari tetap dilayani. iwtu ada yang grupnya tadi itu, dia punya SPBU di jalan Perak dekat jalan Nilam seberangnya Lantamal,
“Itu tiap hari 60 ton masuk ke situ, tanpa ada pengurangan sama sekali. Yang ngak adilnya disini, itu yang 60 ton dibiarkan bebas, bukan hanya 60 ton saja terserah mereka minta berapa saja diladeni. Dan kita ini yang minta 40 ton jadi 24 ton, akhirnya truk-truk ini lari kesana semua.” paparnya.
Sementara Edi Humas Pertamina Marketing Operation Region (MOR) V Jatim, Bali, Nusa Tenggara, saat di konfirmasi melalui pesan WA nya, mengatakan, distribusi tetap berjalan normal dan tidak ada pengurangan.
“Itu laporan valid tidak. Kalau menurut saya itu laporan ngawur.” ucap Edi.
Saat ditanya soal kriteria SPBU yang boleh menjual BBM bersubsidi, apakah harus mengunakan 1 atau 2 nozzle, dia menjelaskan, SPBU yang berada di jalur yang dilewati kendaraan yang masuk dalam kategori pengguna BBM subsidi.
“Karena Premium itu kan BBM subsidi milik negara jadi di tata agar pembeli tidak tergannggu dalam antrian. Kalau 3 nozzle apakah bisa sekali isi 3 kendaraan dengan BBM yg beda?” terangnya.
Lebih lanjut Humas Pertamina ini menjelaskan, kalaupun harus ada pengurangan untuk Premium bukan ranah pertamina yang menentukan.
Pertamina diberi perintah untuk mengatur distribusi BBM subsidi sesuai koata dalam satu tahun.
“Itu tugas pertamina sesuai penugasan pemerintah. Kalau ada pertanyaan tentang mengapa diatur silahkan tanyakan ke pemerintah (BPH MIGAS),” pungkasnya.











