Anggota DPRD Kota Batu Politisi Gerindra, Agung Sugiono dan Bambang Prahmono saat di TPS Pasar Sayur Kota Batu.(gus)
BATU I bidik.news – Polemik darurat sampah masih menjadi isu lingkungan utama di Kota Batu yang tak kunjung tuntas.Kendati persoalan sampah di Kota Batu itu sudah berlangsung beberapa tahun paska Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Tlekung di tutup, namun hingga saat ini masih menjadi sorotan publik di tengah gencarnya kunjungan wisata tanpa henti.

Tak hanya disejumlah ruas – ruas jalan kampung yang kerap nampak sampah – sampah berserakan, di lingkungan Pasar Induk Among Tani Batu pun tumpukan sampah tersebut hingga sekarang masih mengusik kenyamanan para pedagang maupun pengunjung Pasar Induk Amomg Tani Batu.
Menangapi hal tersebut,Ketua Fraksi Partai Gerindra Kota Batu Agung Sugiono mengatakan dalam penanganan sampah harus melibatkan semua pihak, dan membutuhkan sejumlah alat pemusnah sampah.
“Seperti alat pembakar sampah atau incinerator yang mampu membakar sampah dengan kapasitas besar tiap hari,” kata Agung ,Selasa (1/7/2025)
Ini kata dia,merupakan pekerjaan rumah kita bersama dalam menangani persoalan sampah. Ssi lain anggota DPRD Kota Batu ini menyebut warga Pasar Induk Among Tani Batu membutuhkan alat digital marketing besar untuk kebutuhan warga pasar.
“Kami mendorong keinginan warga pasar untuk kepentingan bersama. Memang sangat dibutuhkan alat digital marketing itu.Mengingat ini merupakan pasar modern dan era digital dalam memasarkan dagangan melalui jagat maya,” kata Anggota Komisi B DPRD Kota Batu ini.
Waktu yang sana Wakil Ketua Komisi B DPRD Batu,politisi Gerindra Bambang Prahmohno menambahkan,bahwa kebutuhan alat digital marketing tersebut merupakan kepentingan warga pasar harus segera diwujudkan.
“Untuk kepentingan pasar kebutuhan alat digital tersebut kami support dan kami Komisi B sangat mendukung,” ujarnya.
Sementara itu UPT Pasar Induk Among Tani Batu , Gadis Dewi Primandhasari menyikapi terkait tumpukan sampah di TPS Pasar Sayur tersebut,itu terjadi sejak TPA Tlekung di tutup.
“Tumpukan sampah tersebut, sudah sekitar tiga bulan.Itu seharusnya tiap hari diangkut, namun hanya sampah – sampah yang kering saja yang diangkut oleh petugas Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Batu,” kata Gadis .
Seharusnya kata dia, tiap hari sampah – sampah tersebut diangkut ke TPA supaya tidak menumpuk.Disinggung terkait tugas dan kewenangannya siapa sampah di TPS tersebut? pihaknya mengaku berdasarkan aturan ,itu kewenangannya DLH.
“Berdasarkan aturan, itu kewenangannya DLH.Sedangkan tugas Diskoperidag terkait sampah – sampan di dalam pasar induk, dan itu tidak ada masalah,”ujarnya.
Ini ujar dia, sampah – sampah tersebut, 70 persen sampah organik dan 20 persen sampan basah.
“Dalam sehari,sampan volume sampah tersebut,sekitar satu sengan ton.Dan pihak Diskoperindag kerap membantu DLH dalam menangani tumpukan sampan di area pasar induk,” tutupnya.(Gu)











