SURABAYA – Jadikan makanan dan minuman (Mamin) jadi obat, bukan obat menjadi mamin. Slogan ini bukan tanpa alasan, sebab banyak mamin lezat belum tentu sehat. Justru terdapat ancaman penyakit dari mamin tersebut, yang berujung pada kebiasaan obat dijadikan mamin.
Bagaimana jika mamin tersebut lezat dan menyehatkan serta jadi obat berbagai penyakit ? Inilah yang sekarang dioptimalkan oleh CaxMar Production melalui kemitraannya dengan UMKM dan petani binaan RENG TANI.
CaxMar Production telah puluhan tahun melakukan riset untuk menemukan menu-menu mamin selain enak di lidah juga bermanfaat sebagai obat.
Beberapa menu tersebut berbahan baku dari rempah-rempah dan hasil pertanian. Misalnya daun kelor, jahe, temulawak, kayu bajakah, daun insulin, singkong, buah, dan lainnya. Semua bahan tersebut, ada yang diproses menjadi bubuk minuman, teh, tempe, krupuk, kripik, yoghurt, dan lain-lain.
Ceruk pasar yang masih terbuka luas, membuat olahan dari bahan tersebut terserap pasar, baik pasar lokal maupin ekspor.
“Kami menjadikan bahan baku pertanian menjadi makanan fungsional. Makanan fungsional itu memiliki manfaat menjadi obat bagi tubuh. Contohnya tempe nugget campur kelor, peyek sehat, febio imun booster, teh garlic, dan lainnya. Ada juga bubur kelor untuk bayi dan dewasa,” ujar Maryanto, saat memaparkan produk-produk mamin dari rempah kepada pelaku UMKM binaannya, Minggu (20/2/2021).
Sudah saatnya, lanjut Maryanto, produk rempah Indonesia harus diangkat menjadi produk high class, karena nilai manfaat dan nilai bisnisnya yang cukup besar. Dia mengenang, dulu Nusantara dijajah Belanda karena hasil pertanian berupa rempah-rempahnya, bukan emas dan perak.
“Harusnya rempah untuk dijadikan mamin di Indonesia digalakkan. Tugas Dinas Kesehatan salah satunya mengedukasi masyarakat biasakan mamin jadi obat, bukan obat jadikan mamin. Jangan sampai rempah-rempah Indonesia dibawa ke luar negeri untuk dimanfaatkan disana,” pesan Maryanto.
Tercatat dari data Badan Pusat Statistik (BPS), selama periode Januari – April 2020, ekspor lada tercatat 1,69 juta ton dengan nilai 5,75 juta dolar AS. Meningkat dibanding periode yang sama di 2019 sebesar 1,32 juta ton dengan nilai 5,13 juta dolar AS.
Komoditas pala meskipun mengalami penurunan volume dari 1,37 juta ton di 2019 menjadi 1,37 juta ton di 2020, namun nilainya mengalami kenaikan dari 10,79 juta menjadi 12,6 juta dolar AS. Demikian pula cengkeh yang mengalami kenaikan volume dari 300,8 ribu ton di 2019 menjadi 380,8 ribu ton di 2020. Ekspor jahe sebesar 23.551,9 ton senilai 13,53 juta dollar.
Sedangkan kelor, tercatat Jatim telah mengekspor sekitar 50.885 ton daun kelor ke berbagai negara di Asia, seperti Taiwan, Korea Selatan dan Tiongkok, dengan harga jual 2,8 dollar AS atau Rp 39.200 per kilogram.











