GRESIK – Kepala Bank Indonesia (BI) Jatim Budi Hanoto, (12/3) menghadiri undangan Keluarga besar Alumni Universitas Jember (KAUJE) dan Asosiasi Tanaman Hias Kab. Gresik pada kegiatan sharing session sinergitas kebijakan Pemerintah terhadap peluang ekspor tanaman hias Kab. Gresik.
Kegiatan yang berlangsung di Sentra Tanaman Hias ‘Asem Gede’ Desa Kesamben Kulon ini untuk menggali peluang ekspor tanaman hias Kab. Gresik beserta kemungkinan dukungan dari Pemerintah.
Hadir anggota DPR RI Komisi XI M. Sarmuji, SE.Msi, Direktur OJK KR4 Mulyanto, Wakil DPRD Kab. Gresik Nur Hamim serta Kepala Dinas Pertanian Gresik Ir. Eko Anindito, MMA.
Budi Hanoto menyampaikan, BI menaruh perhatian pada upaya peningkatan ekspor produk asli Indonesia. Hal ini bagian dari tugas BI dalam menjaga kestabilan nilai rupiah melalui program strategis bauran kebijakan moneter dan fiskal, khususnya dalam memperkuat net ekspor barang.
Berdasarkan data World Integrated Trade Solution (WITS), permintaan tanaman hias global terus meningkat sejak 2017. Bahkan, berdasarkan analisis Reveal Symmetric Comparative Advantage (RSCA), ekspor tanaman hias Jawa Timur masuk dalam kategori unggul surplus. Hanya saja nilai ekspornya masih terbatas.
“Artinya, potensi tanaman hias Gresik untuk diekspor sangat besar melihat permintaan dunia yang tinggi dan saat ini ekspor tanaman hias Jatim masih terbatas”, jelas Budi kepada Keluarga besar Alumni Universitas Jember dan Asosiasi Tanaman Hias Kab. Gresik.
Selain potensi ekspor, sentra tanaman hias yang tersebar di 6 desa Kab. Gresik juga dapat menjadi pendorong ekonomi melalui konsep desa wisata. Pengembangan desa wisata Gresik berbasis tanaman hias dapat merujuk pada pengembangan Desa Wisata Edelweiss di Desa Wonokitri Kawasan Bromo-Tengger Semeru yang mengintegrasikan natural dan cultural tourism. Gresik juga dapat mencontoh Kampung Flory Sleman yang sukses membangun Community Based Tourism (CBT).
Merespon Kepala BI Jatim, Sarmuji Anggota Komisi XI DPR RI dan Ketua KAUJE menyampaikan, BI diharapkan dapat mendukung upaya peningkatan ekspor tanaman hias Gresik. Selain melalui Program Sosial Bank Indonesia (PSBI), Sarmuji juga berharap BI dapat melakukan pendampingan dan pelatihan agar 3 bulan mendatang sentra tanaman hias di Gresik mampu mengekspor tanaman hias ke luar negeri.
“Dengan dukungan dari BI, Pemda Kab. Gresik dan OJK, Desa Kesamben Kulon kami harap mampu bertransformasi menjadi Desa wisata yang menjadi sentra ekspor tanaman hias dan tidak kalah sukses dari Desa Floris Sleman”, jelas Sarmuji.
Sentra Wisata Tanaman Hias di Gresik yang dibuka pada 2021 berpotensi mendorong kinerja pariwisata Kab. Gresik yang dapat mendatangkan manfaat yang tinggi bagi masyarakat sekitar dan mendukung percepatan pemulihan ekonomi Kab. Gresik dan Jawa Timur.











