SURABAYA | bidik.news – Kantor Balai Karantina Jawa Timur Satuan Pelayanan Perak di Jl. Kalimas Baru, Tanjung Perak Surabaya melakukan pemeriksaan terhadap komoditi karantina hewan, ikan, daging, telur dan tumbuhan. Salah satunya 30 ekor sapi yang dalam proses pemeriksaan.
Balai Karantina Jatim Satuan Pelayanan Perak melakukan persiapan pelayanan perkarantinaan, sekaligus dalam rangka pengawasan dan operasi menyambut lebaran 2025.
“Kami ingin memastikan bahwa pejabat karantina ini bener-bener sudah siap melakukan pelayanan. Kami juga ingin memastikan bahwa semua yang diperiksa ini bebas dari HPIK,” kata Kepala Karantina Jatim, Drh. Hari Yuwono Ady, M.Si, Senin (24/3/2025).
Menurutnya, proses pelayanan ini akan berlangsung sampai kapan ada batasan dari pemerintah ada intervensi, untuk WFA.
“Berdasarkan instruksi pemerintah mulai tanggal 24 sampai 27 Maret ini kita diijinkan untuk melakukan WFA. Namun bagi kami, petugas karantina kita tentunya tidak sama dengan instansi lain, kita harus memastikan melakukan pemeriksaan fisik ini,” jelasnya.
Selain itu, Balai Karantina juga melakukan pemeriksaan fisik memastikan bahwa komoditi yang lewat itu aktivitas Hama Penyakit Ikan Karantina (HPHK), Hama Penyakit Hewan Karantina (HPIK), dan Organisme Pengganggu Tumbuhan Karantina (OPTK).
“Saya sangat mengapresiasi kepada anggota yang melakukan pengawasan pada saat ini. Karena, pada saat cuti bersama pun sampai 7 April, teman-teman ini masih melakukan tiket pelayanan. Jadi saya sangat mengapresiasi kepada kawan-kawan.
Kami tetap melaksanakan tugas menjaga Jatim, khususnya dan Indonesia dari ancaman HPHK, HPIK maupun OPTK,” terangnya.
Hingga saat ini, Balai Karantina Jatim masih menjaga kondusifitas, tidak ditemukan kasus-kasus atau masih semua berjalan sesuai SOP yang berlaku.
Ditambahkannya, seperti halnya sapi yang dikirim ke Banjarmasin dari Jawa Timur itu sedang dilakukan masa karantina sambil menunggu hasil uji terhadap penyakit PMK.
“Nanti kita lihat hasilnya seperti apa, tapi kalau dari pemeriksaan fisik tadi yang kita lihat, sepertinya tidak menimbulkan atau tidak menunjukkan gejala klinis. Mudah-mudahan, karena sapi merupakan salah satu kebutuhan pokok masyarakat, dalam memenuhi kebutuhan daging,” tambahnya.
“Jadi, mudah-mudahan sapi yang sudah kita periksa untuk selanjutnya dalam kondisi sehat dan akan kita lakukan sertifikasi untuk dilaporkan ke kantor pusat. Kalau memang nanti hasil PCR nya, hasil uji lab nya negatif ini bisa langsung kita berangkatkan,” pungkasnya.











