JAKARTA-Anggota komisi II DPR RI dari Partai Demokrat Beny Kabur Harman mendapat kunjungan dari teman-teman Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Brawijaya bersama tim di kompleks DPR/MPR RI pada Kamis, (10/9/2020).
Dalam kegiatan kunjungan tersebut banyak hal yang diskusikan, terutama isu yang berkaitan dengan (Komisi Pemberantasan Korupsi) KPK dan Korupsi.
Menurut Beny saat ini, banyak kelompok anti korupsi yang letih dengan gerakan pemberantasan korupsi di tanah air. Kondisi psikologis gerakannya terganggu dengan UU KPK yang baru.
Lebih lanjut Beny menjelaskan bahwa KPK yang sebelumnya banyak mencetak prestasi dan keberhasilan dalam tanda kutip, ditakuti oleh semua pihak. Bayangkan, DPR/DPD, menteri, gubernur, walikota, bupati, DPRD, jenderal-jenderal Polisi/TNI, dan lain-lain ditangkap, diadili dan dijebloskan ke penjara.
“Saya sungguh prihatin akan situasi korupsi saat ini. Menurut saya, KPK saja tidak cukup untuk melawan penyakit korupsi ini. Tapi sapa mau help? Apakah ada hope?, ” jelasnya
Politikus asal Flores Nusa Tenggara Timur ini juga menerangkan bahwa KPK saat ini biasa-biasa saja tidak ditakuti. Korupsi pun kembali menggeliat tumbuh subur dimana-mana. Berbagai kekuatan yang sebelumnya menganggap KPK keterlaluan dengan berbagai sepak terjangnya, mulai bersorak-sorak lagi. Mereka merayakan korupsi KPK seolah-olah lumpuh, Sementara prilaku korupsi semakin canggih.
“Saya percaya pada demokrasi, saya percaya pada kekuatan rakyat. Akan tiba saatnya korupsi akan kalah dengan rakyat yang berdaulat. Karena itu, saya mengharapkan gerakan sosial untuk melawan korupsi. Sosial movement untuk membangun masyarakat anti korupsi, “ungkapnya
Beny pun berharap semoga gerakan kelompok-kelompok kritis yang dipadu dengan kekuatan moral dan politik di lembaga-lembaga kekuasaan dapat membuat UU KPK yang ada saat ini bisa direvisi kembali, Jangan pernah lelah.










