SURABAYA|BIDIK – Pada Agustus 2017, Jatim mengalami deflasi sebesar 0,25 persen. Dari 8 Kota yang menghitung Inflasi, seluruhnya mengalami deflasi. Deflasi tertinggi terjadi di Kota Malang, yaitu 0,57 persen, diikuti Sumenep 0,25 persen, Surabaya dan Probolinggo masing-masing 0,19 persen, Kediri 0,17 persen, Madiun 0,16 persen, Banyuwangi 0,11 persen, dan Jember 0,09 persen.
Kepala BPS Jatim, Teguh Pramono mengungkapkan, kelompok pengeluaran yang mengalami inflasi tertinggi ialah kelompok pendidikan, rekreasi, dan olahraga yang mencapai 1,45 persen, sedangkan kelompok terendah ialah kelompok bahan makanan yang deflasi sebesar 1.53 persen.
“Komoditas utama yang memberikan andil terbesar terjadinya deflasi di Jatim, Agustus 2017 adalah tarif angkutan udara, bawang merah, dan bawang putih. Sedangkan komoditas yang memberikan andil terbesar inflasi ialah tarif sekolah dasar, tarif sekolah menengah atas, dan emas perhiasan,” jelas Teguh, Senin (4/9/2017).
Laju inflasi tahun kalender Jatim di Agustus 2017 mencapai 2,86 persen, angka ini lebih tinggi dibanding tahun kalender Agustus 2016 yang hanya 1,80 persen,
Laju inflasi tahun ke tahun (yoy) Jatim di Agustus 2017 mencapai 3,81 persen, angka ini lebih tinggi dibanding Agustus 2016 yang hanya 2,77 persen,
“Pada Agustus 2017, tiga ibukota provinsi di pulau Jawa mengalami deflasi dan tiga ibukota mengalami inflasi. Deflasi tertinggi terjadi di Kota Semarang yang mencapai 0,48 persen. Sedangkan inflasi tertinggi terjadi di DKI Jakarta sebesar 0,13 persen,” pungkasnya. (hari)







