JAKARTA – Produsen pupuk PT Nusa Palapa Gemilang Tbk secara resmi tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) melalui mekanisme penawaran umum perdana atau Initial Public Offering (IPO). Perusahaan asal Sidoarjo, Jawa Timur ini menjadi emiten baru ke-15 sepanjang 2021 dan ke 728 yang tercatat di BEI hingga saat ini.
“Langkah perseroan untuk melantai di Bursa Efek Indonesia melalui IPO bagian dari strategi perseroan untuk memperbesar kapasitas pendanaan perseroan. Serta meningkatkan tata kelola perseroan agar menjadi lebih baik lagi di masa yang akan datang,” ungkap Direktur Utama Nusa Palapa Gemilang, Uus Sudianto, di Jakarta, Rabu (14/4/2021).
Emiten berkode saham NPGF tersebut melepas 648,05 juta saham baru atau 20% dari modal ditempatkan dan disetor penuh dengan harga Rp100 per saham. Perseroan menunjuk PT UOB Kay Hian Sekuritas sebagai penjamin pelaksana emisi efek.
Selama masa penawaran umum pada 31 Maret hingga 7 April 2021, saham NPGF mendapatkan minat yang cukup positif dari para investor dengan jumlah permintaan yang masuk mengalami kelebihan permintaan atau oversubscribed hingga 3,97 kali dari jumlah total penawaran saham yang ditawarkan dalam IPO.
Perseroan menerima dana segar dari IPO sebesar Rp 64,8 miliar yang 82% diantaranya akan digunakan untuk akuisisi lahan, 17% untuk pelunasan pembelian mesin produksi, dan sisanya untuk modal kerja perseroan, yaitu pembelian bahan baku produksi.
“Kami optimis rencana ekspansi usaha yang didanai dari hasil IPO itu akan memberikan efek yang positif bagi kelangsungan maupun prospek usaha perseroan ke depannya,” imbuh Head of Corporate Finance UOB, Kay Hian Sekuritas Daud Gunawan.
Kinerja perusahaan sampai September 2020 telah mencatatkan pertumbuhan pendapatan yang positif kendati dimasa pandemi Covid-19. Uus tetap optimis, prospek usaha yang dijalankan saat ini masih akan positif ke depannya.
“Hal ini terlihat dari pertumbuhan permintaan pupuk NPK dari perkebunan kelapa sawit sebagai imbas dari membaiknya harga CPO internasional. Secara keseluruhan, pertumbuhan sektor nonmigas dari industri dasar dan kimia terus meningkat hingga 14,96% sampai kuartal 3/2020 lalu,” kata Uus.
Pada perdagangan perdananya, saham NPGF terpantau naik 35 poin atau 35% alias menyentuh batas auto rejection atas (ARA) ke level Rp135 per saham.










