JAKARTA – Istilah “Cebong” dan “Kampret” adalah istilah bagi para pendukung masing-masing calon pada saat Pilpres 2019 dan istilah itu sangat popular, terutama di Medsos, bahkan sempat dijadikan saling mengejek, sehingga membuat panasnya suhu Pilpres pada saat itu.
Istilah “Cebong” itu sebuah label untuk para pendukung Joko Widodo atau Jokowi, sedangkan istilah “Kampret” untuk para pendukung Prabowo Subianto.
Namun usai Pilpres, Komisi Pemilihan Umum (KPU) memutuskan pasangan nomor urut 1, Joko Widodo – Ma’ruf Amin sebagai pemenangnya , Maka perseteruan “Cebong Vs Kampret ” berakhir, bahkan diakhiri dengan “Happy Ending” alias bagi- bagi jabatan.
Pasalnya Prabowo Subianto yang pada saat itu berpasangan dengan Sandiaga Uno melawan pasangan Joko Widodo – Ma’ruf Amin, secara mengejutkan bergambung dalam kabinet Jokowi sebagai Menteri Pertahanan (Menhan).
Bergabungnya Prabowo Subianto pada awalnya menjadi “rasan-rasan” para pendukungnya, namun dalam rumus politik ada istilah ” Tidak ada lawan Abadi, tidak kawan abadi, yang ada hanya kepentingan “, kata-kata itulah mungkin yang membuat pendukung Prabowo Subianto – Sandiago Uno tidak terlalu tersakiti.
Setelah pemerintahan Jokowi berjalan terjadi musibah, dua menterinya sekeligus tertangkap tangan atau OTT oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Musibah itu yang membuat Jokowi langsung melakukan reshuffle kabinet .
Dalam reshuffle tersebut, Giliran Sandiago Uno mendapat giliran jatah menteri, mengkuti jejak bosnya menjadi Menhan.
Jokowi mempercayakan disektor wisata dan ekonomi kreatif, menjadi tanggung jawab Sandiago Uno sebagai Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif) (Menparekraf) menggantikan Wishnutama .
Maka dengan terpilihnya Sandiago Uno menjabat sebagai Menparekraf lengkap sudah mantan-mantan lawan politik Jokowi- Ma’ruf Amin bergabung dikabinet “Cebong”.
Namun kehadiran bergambungnya mantan lawan politik Jokowi yang pada saat itu sangat panas tensinya mendapat kritikan keras dari politikus dari Partai Nasdem Irma Suryani Chaniago, Irma menganggap percuma diselenggarakannya Pilpres,” Percuma kemarin saya dan teman-teman koalisi, berdarah-darah di Pilpres 2019 lalu,” ujar nya dikutip CNN Indonesia.Com, Selasa(22/12/2020).
Masih kata Irma Suryani yang juga mantan juru bicara Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma’ruf,” Ini bukan masalah tidak setuju, Kalau Capres dan Cawapres, dua-duanya masuk kabinet, Untuk apa ada Pilpres,” katanya.
Seperti diketahui, setelah dua menterinya, Edy Prabowo Menteri Kelautan dan Perikanan dan Menteri Sosial Juliari Peter Batubara ditangkap KPK dalam OTT, Jokowi merasa malu dan langsung melakukan reshuffle kabinetnya, padahal beberapa pengamat sudah jauh hari menyarankan Jokowi untuk segera melakukan reshuffle terkait kinerja menterinnya. Akhirnyq enam menterinya terkena reshuffle. Diantaranya Menteri Kelautan dan Perikanan, Menteri Sosial, Menteri Kesehatan,Menteri Agama.(Imron)











