SURABAYA- Pertarungan pemilihan walikota Surabaya dalam Pilkada semakin dekat. September depan, KPUD Surabaya sudah mulai melakukan pendaftaran bagi para calon. Namun hingga saat ini belum ada tanda-tanda siapa calon lawan dari Cawali Machfud Arifin (MA) dalam pertarungan tersebut.
Kabar yang sangat santer disebut-sebut, yakni Eri Cahyadi, Kepala Bappeko Surabaya.Tapi untuk pastinya, harus menunggu “Rekom” hanya dari PDI-P. Bagaimana peta pertarungannya, keduanya sudah mulai terlihat persiapannya, terutama MA yang jauh sebelumnya sudah “All Out Blusukan” untuk mencari simpatik warga.
Sedangkan Eri Cahyadi, sepertinya masih “Malu-malu kucing” , tapi secara perlahan- lahan, sudah mulai menunjukan aktifitasnya. Salah satunya dengan membentuk tim relawan yang sudah tersebar, karena kepastian “rekom” dari partai pengusung belum “deal” .
Machfud Arifin (MA)
Adalah seorang purnawirawan jenderal polisi yang sukses diinstitusi kepolisian, hingga menduduki jabatan terakhir sebagai orang nomor satu dikepolisian Jawa Timur. Selain itu, pada saat purna tugas dikepolisian, MA mendapat kepercayaan, untuk memimpin tim sukses pemenangan pasangan Joko Widodo – Mafruf Amin dalam Pilpres 2019.
Eri Cahyadi (EC)
Birokrat tulen yang mengawali karirnya sebagai pegawai negeri sipil tahun 2001 di Pemkot Surabaya. Banyak jabatan penting yang telah diemban. Sejak kepemimpinan Tri Rismahari, kariernya begitu cemerlang. Dengan kecerdasannya serta SDM yang dimilikinya, ia akhirnya mampu menduduki jabatan sebagai Kepala Bappeko Surabaya, yang disebut-sebut sebagai jabatan penting di Pemkot Surabaya.
Untuk itu, bagaimana warga Surabaya memilih kedua figur tersebut yang memiliki latar belakang yang berbeda, sebagai pilihannya dalam Pilkada Surabaya nanti.
Berikut analisa pengamat politik Surokim Abdussalam, Peneliti Senior SSC Surabaya Survey Center. Menurutnya, dalam pilkada langsung, faktor dan pertimbangan terhadap kandidat akan menjadi pertimbangan utama, baru kemudian afiliasi politik. Apalagi dukungan terhadap partai tidak selalu linear dengan dukungan terhadap kandidat.
“Jadi jika mampu menyolidkan dukungan, tentu akan menjadi modal berharga. Tapi jika soliditasnya tidak maksimal, tentu saja tidak menjadi pengaruh signifikan. Dalam konteks pemilu langsung, banyak sekali variabel yang bisa mempengaruhi perilaku memilih dan kian kompleks,” ungkapnya, Kamis (27/8/2020).
“Belum lagi terkait konteks dan keberagaman pemilih tentu kian sulit memetakan dukungan pemilih Surabaya yang 2,1 juta pemilih. Diperlukan strategi yang tepat dan beragaman serta segmented agar bisa menjangkau pemilih yang beragam tersebut. Dan jumlah dukungan partai tentu tidak serta merta jika melihat kondisi itu, mengingat ini adalah pilkada langsung. Dimana voters akan memberikan suaranya secara langsung terhadap kandidat,” sambungnya.
Dekan FISIB UTM serta Dosen Komunikasi Politik ini juga menjelaskan, jika dilihat dari berbagi tracking hasil survey mengenai kriteria personal pemilih Surabaya, lebih banyak melihat faktor kejujuran, kinerja pengalaman dan kompetensi kapabilitas sebagai kriteria utama. Baru di susul aspek sosiologis sebagai pelengkap, seperti gender, usia, dan juga etnis.
Jika melihat hal itu, lanjutnya, maka pemilih Surabaya mulai bergeser menjadi pemilih rasional dan objektif. “Tentang latar belakang, sejauh ini saya belum memiliki data pendukung yang cukup untuk bisa mengatakan profesi ini lebih unggul dari yang lain,” ujarnya.
“Jadi menurut saya, pemilih rasional ini akan menentukan dalam pilkada Surabaya 2020 dan juga strategis diperebutkan oleh para kontestan,” tutup Surokim.











