BIDIK NEWS | Kota Batu–Pemanfaatan sumber mata air tanpa gerakan pelestarian berpotensi menimbulkan krisis air. Gejala berkurangnya debit sumber mata air telah dirasakan masyarakat Desa Junrejo, Kecamatan Junrejo, Kota Batu. Untuk memenuhi kebutuhan air sehari-hari warga Desa Junrejo memanfaatkan distribusi air yang dikelola himpunan penduduk pemakai air minum (Hippam).
Di desa ini banyak sekali ditemukan sumber mata air peninggalan peradaban masa lampau. Situs dan ritus sejarah peninggalan kerajaan di masa lampau jaraknya berdekatan dengan petirtan (kolam pemandian). Secara etimologi Junrejo berasal dari kata ‘dyon-retjo’ yang bermakna tempat air dari batu.
Terdapat sumber mata air di tiap-tiap rukun warga (RW) yang jumlahnya berkisar sepuluh RW dengan jumlah kepala keluarga minimal berkisar 125 KK per RW. Pengelolaan hippam pun diserahkan sepenuhnya kepada tiap-tiap RW untuk memenuhi kebutuhan air bersih dengan tarif dibawah Rp. 500 per meter kubik. Tarif yang diberlakukan merupakan hasil musyawarah antar warga di lingkungan RW masing-masing.
Kepala Desa Junrejo, Andi Faizal Hasan menuturkan hingga kini masih belum tahu berapa debit air per detiknya yang dikeluarkan sumber mata air yang terdapat di masing-masing RW. Pastinya, ia mengatakan meskipun ketersedian air mampu memenuhi kebutuhan warga di lingkungan RW, namun lambat laun debit air yang dikeluarkan semakin berkurang.
Dua tahun sebelumya, tepat pada tahun 2016, ia selaku kepala desa telah membentuk kepengurusan hippam di tingkat desa untuk menyatukan visi misi hippam yang berada di tiap-tiap RW. Langkah awal yang disusun berupa pendataan jumlah sumber mata air dan upaya pelestarian sumber kata air. Selanjutnya, pengelolaan sumber mata air yang lebih profesional untuk dijadikan sumber pendapatan asli desa.
Andi menerangkan, meskipun telah dibentuk kepengurusan hippam di tingkat desa, namun hingga kini masih belum ada peraturan desa hippam untuk menyeragamkan tarif. Saat ini perdes tersebut masih dalam tahapan pembahasan bersama badan permusyawaratan desa (BPD).
“Perdes ini untuk mendongkrak pendapatan desa tanpa membebani lingkungan RW selaku pengelola hippam. Selain itu dipikirkan pula upaya pelestarian sumber mata air untuk jangka panjang,” jelas Kepala Desa Junrejo, Andi Faizal Hasan.
Melimpahnya sumber mata air merupakan berkah bagi Desa Junrejo. Namun Andi menyayangkan eksploitasi warga di salah satu lingkungan RW terhadap sumber mata air dengan cara menggali tanah untuk mendapatkan pasokan air berlebih yang kemudian dijual ke salah satu pengembang perumahan. Jarak sumber mata air itu pun tak jauh dari situs peninggalan sejarah. Ia mengaku tak tahu menahu praktik semacam itu.
“Saat ini sumber mata air itu mengering dan ditumbuhi lumut. Kami mengajak masyarakat berperan aktif menyelematkan sumber mata air, jangan sampai lalai,” seru Faizal.
Sebagai urat nadi kehidupan, sumber mata air di Kota Batu jumlahnya semakin merosot. Berdasarkan catatan Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Jawa Timur yang dirilis di tahun 2017, dari 111 titik sumber mata air merosot menyisakan 56 titik sumber mata air. Konservasi sumber mata air tak cukup hanya melalui legalitas formal yang terkesan normatif. Pendekatan sosio kultural perlu ditekan untuk membangkitkan kesadaran masyarakat melestarikan ekologi sumber mata air. Pelestarian sumber mata air bagi masyarakat masa lampau dipengaruhi sinkritesme yang menempatkan sumber mata air sebagai ritus sakral dalam menopang keberlangsungan hidup.
Salah satu upaya pelestarian air melalui gerakan menanam air, manifestasi penyadaran akan pentingnya merawat keberlangsungan ekologi lingkungan dengan teknik biopori dan pembuatan sumur injeksi. Gerakan menabung air dimotori Bambang Irianto penggagas Kampung 3G (Glintung Go Green), di Kampung Glintung, Kelurahan Purwantoro, Kecamatan Blimbing, Kota Malang.
Dedikasi konservasi air telah ia lakukan sejak tahun 2013 silam dan mampu menembus nominasi 15 besar pada ‘Guangzhou Award for Urban Innovation’ pada 2016 lalu. Sosok Ketua RW 23 Purwantoro itu mengatakan gerakan menabung air wujud melestarikan keberadaan air untuk mengisi cadangan air tanah.
Liris “bangunlah jiwanya, bangunlah badannya’ pada lagu Indonesia Raya menginspirasinya dalam gerakan sosial melestarikan lingkungan. Dengan teknologi biopori, limpahan air dapat meresap ke dalam tanah sehingga ketersedian akuifer dapat dipenuhi. Bambang Irianto menuturkan air yang turun dari langit harusnya meresap ke dalam tanah, bukan mengalir begitu saja.
“Pelestarian lingkungan harus serentak antar daerah. Membangun lingkungan harus holistik dan mampu memberikan solusi serta meningkatkan kesejahteraan warga,” tandas Bambang Irianto. (Didid)
Text Foto: Pemuda Karang Taruna Desa Junrejo dibantu personil TNI menanam pohon di Dusun Precet, Desa Junrejo, Kecamatan Junrejo Kota Batu. Di Dusun Precet terdapat sumber mata air Kokopan yang saat ini telah mengering.










