BANYUWANGI | bidik.news – Impian Faisal Ahmadi Pratama siswa asal SDN Kepatihan untuk melanjutkan ke sekolah favorit pupus meski memiliki sederat prestasi dan pernah mengharumkan nama Kabupaten Banyuwangi.
Orang tuanya mengaku sedih dan kecewa karena Faisal harus mengubur impiannya masuk di sekolah favoritnya yakni SMP Negeri 1 Banyuwangi.
Sejumlah prestasi yang diraihnya tak mampu mengangkat nilai di Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) jalur prestasi yang telah diikutinya.
“Anak saya sudah membawa nama Banyuwangi di berbagai kejuaraan dan memiliki sembilan sertifikat. Namun semua prestasinya itu tak dihargai dan tidak artinya sama sekalinya saat mendaftar sekolah,” ujar Ibu Faisal, Lia Riski Fauziah, Senin (15/6/2026).

Ironisnya lagi, selain siswa berprestasi, Faisal tercatat sebagai pemegang Kartu Indonesia Pintar (KIP) yang berarti peserta didik dari keluarga kurang mampu yang ditetapkan sebagai penerima manfaat Program Indonesia Pintar (PIP).
Lia mengungkapkan, selama ini anaknya selalu didorong untuk aktif mengikuti berbagai kompetisi, baik akademik maupun non-akademik. Prestasi yang diraih diharapkan menjadi bekal saat melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya.
Berbekal semangat tersebut, Faisal tercatat meraih sejumlah gelar di beberapa cabang kejuaraan olahraga, baik itu di tingkat kabupaten maupun tingkat provinsi. Diantaranya, cabang olahraga kurash, pencak silat, kick striking hingga jalan cepat.
“Anak saya itu juara tingkat kabupaten, kompetisi regional Jawa-Bali hingga Porseni Provinsi Jawa Timur,” bebernya.
Menurutnya, Faisal sudah lama mengaku ingin masuk di SMPN 1 Banyuwangi. Ia termotivasi untuk berprestasi agar mudah diterima di SMPN Favoritnya itu, namun setelah berprestasi ternyata manfaatnya tidak seperti yang dibayangkan.
Di tengah kekecewaan tersebut, Faisal tetap berusaha menjaga semangat. Ia mengaku masih memiliki keinginan kuat untuk melanjutkan pendidikan di sekolah yang diidamkannya.
“Saya ingin masuk sekolah di SMPN 1 Banyuwangi, sekolah impian saya, supaya bisa lebih pintar dan bisa mengembangkan kemampuan saya lagi,” kata Faisal yang kini terpaksa mendaftarkan diri di SMPN 4 Banyuwangi lewat jalur domisili.
Kisah Faisal yang pilu ini kini menjadi gambaran dan perhatian tersendiri. Sebuah keberhasilan yang menorehkan prestasi dan membawa nama daerahnya, belum tentu akan mendapat perhatian dari pemerintah. Hal itu membuat Faisal menghadapi ketidakpastian dalam memperoleh akses ke sekolah yang diharapkannya.(nng)











