SURABAYA | bidik.news – Suasana di lingkungan Yayasan Barunawati Biru Surabaya (YBBS) pasca pergantian ketua banyak dikeluhkan karyawan dan pendidik. Pembina dan Sekretaris Yayasan disebut-sebut biangnya.
Sebagaimana diketahui, yayasan yang menaungi TK, SD, SMP, SMA, SMK dan STIAMAK Barunawati Surabaya ini akhir Agustus 2025 lalu melakukan pergantian ketua.
Iwan Sabatini yang menjabat Ketua YBBS sejak Agustus 2021 mengakhiri masa pengabdiannya, digantikan Firmaniansya dari PT Pelindo.
Namun, baru setengah bulan pergantian nahkoda, beragam keluhan bermunculan. Yang mereka keluhkan bukan Ketua Pengurus YBBS yang baru, melainkan Pembina Yayasan dan Sekretaris Yayasan.
Seorang guru yang juga admin sekolah Barunawati mengungkapkan, tindakan pembina yayasan meresahkan para guru dan pegawai, karena terlalu ikut campur kebijakan pengurus.
Menurutnya, tindakan pembina yayasan semestinya tidak melampaui kewenangan pengurus.
Sumber yang lain, yang juga keberatan disebutkan namanya mengatakan, YBBS saat ini dikendalikan pembina yayasan yang dulu juga pernah jadi ketua yayasan di tahun 2013.
“Semua aturan sekarang apa kata Pak Taryono. Hal kecil pun harus ijin pembina. Ketua pengurus tidak berdaya apa apa,” ujar Staf Barunawati ini, Kamis (18/9/2025).
Bahkan, menurut sumber tersebut, pergantian ketua yayasan ini karena ketua lama tidak kerasan dengan intervensi pembina yayasan, ditambah dengan kebijakan sekretaris yayasan yang berseberangan dengannya.
“Indarto selaku sekretaris yayasan selalu cari muka pada Taryono, sehingga roda kepengurusan yayasan jadi tidak kondusif dan terus digoyang oleh Indarto,” sebutnya.
Dijelaskan, Indarto yang baru dua tahun bekerja di Barunawati kerap rapat sendiri dengan Taryono.
“Sekretaris yayasan seperti gak ada kerjaan yang penting, selalu cari-cari dan menyalahkan peraturan yang sudah ada,” tuturnya.
Diungkapkan, sekretaris yayasan itu pensiunan PT KAI. Dia tidak menguasai peraturan yang ada selama ini.
“Sekretaris Yayasan Barunawati tidak pernah memahami pekerjaan bidang pendidikan, seolah semua disamakan dengan aturan perkeretaapian,” tandasnya.
Tidak hanya sekretaris perusahaan, pembina yayasan juga hampir setiap hari datang dan keliling sekolah-sekolah, tanya-tanya cari kesalahan.
Sumber lain mengatakan, sekarang banyak surat terkait YBBS numpuk tidak dikerjakan oleh sekretaris yayasan yang sepertinya bingung dan gak bisa kerja. Sudah demikian, tidak ada tindakan dari Pengawas yayasan.
Keterangan lain menyebutkan, para karyawan dan pendidik banyak yang menginginkan yayasan ini kembali dipimpin oleh Pelindo seperti dulu.
“Kalau begini terus, Barunawati yang sudah maju bisa makin berat dan tergerus kemampuannya,” ucap seorang di antara mereka.
Keterangan lain yang diperoleh media ini, ada pegawai tetap Barunawati, yakni Mad Sidi, yang di data dapodiknya sebagai Kepala Sekolah SD Nurul Anwar Krembangan, Surabaya.
Mad Sidi setiap hari meninggalkan tempat kerjanya di Barunawati, diduga karena harus siaga sebagai kepala sekolah tersebut.
Sehingga, para pegawai Barunawati lainnya jadi gusar, karena pelanggaran itu dibiarkan oleh yayasan Barunawati. “Kok bisa kerja mendua dibiarkan saja,” ujar mereka
Mereka menyebutkan, Mad Sidi sangat dekat dengan Taryono, dan akan dipromosikan jadi Kepala Bidang di Barunawati oleh pembina yayasan tersebut.
Ketua YBBS Firmaniansya sendiri belum bisa ditemui media ini. “Pak Firman sedang keluar,” ujar karyawan YBBS.
Sedangkan Iwan Sabatini menolak memberikan keterangan. Saat dihubungi, Iwan menjawab singkat sudah tidak ada urusan dengan YBBS. “Silakan hubungi pengurus YBBS,” ucapnya sembari mematikan ponselnya. (*)









