SURABAYA | bidik.news – Advisor Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Jatim, Ridzky Pribadi, menegaskan pentingnya penguatan UMKM berbasis syariah untuk memperkuat fondasi ekonomi daerah. Hal itu disampaikan Ridzky dalam talkshow bertema “Pemberdayaan UMKM Syariah dan Usaha Pesantren untuk Mendorong Kemandirian Ekonomi”, Jumat (12/9/2025) malam.
Menurut Ridzky, UMKM selama ini telah menjadi tulang punggung perekonomian nasional. Secara agregat, kontribusinya mencapai 60%-61% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia. Tidak hanya itu, sektor ini juga mampu menyerap sekitar 97% tenaga kerja.
Dalam kondisi global yang penuh ketidakpastian, UMKM terbukti menjadi penyangga ketahanan ekonomi. Bahkan dari sisi ekspor, kontribusinya sudah menyentuh 15,7%, dan itu masih bisa ditingkatkan lagi,” jelasnya.
Ia menambahkan, UMKM berbasis syariah memiliki nilai tambah karena mengedepankan prinsip keadilan, transparansi, dan keberkahan. Prinsip inilah yang diyakini mampu menghadirkan manfaat berkelanjutan bagi masyarakat.
Ridzky menilai, kreativitas UMKM yang muncul dari desa hingga kota mampu memperkuat daya saing daerah. Dengan begitu, masyarakat tidak hanya bergantung pada produk luar, tetapi juga semakin percaya diri dengan kualitas produk lokal.
Untuk memperkuat daya saing, katanya, penguatan kualitas produk menjadi hal mendesak. Mulai dari kemasan, branding, hingga pemanfaatan digitalisasi perlu diperhatikan agar akses pasar semakin terbuka lebar.
Selain itu, kolaborasi dengan kurator, agregator, dan sektor hilir seperti hotel, restoran, serta kafe (horeka) juga diperlukan. Dengan demikian, produk unggulan daerah bisa benar+benar terserap pasar dan naik kelas.
Ridzky juga menyinggung peran besar pondok pesantren (ponpes). Ponpes memiliki potensi luar biasa sebagai pusat ekonomi berbasis komunitas.
“Ponpes bukan hanya tempat pendidikan agama, tetapi juga dapat menjadi pusat lahirnya wirausaha. Banyak pesantren yang kini merintis usaha di bidang agribisnis halal, peternakan, kuliner, hingga fesyen muslim,” paparnya.
Data Kementerian Agama pada 2024 mencatat ada sekitar 39.551 pesantren dengan hampir 5 juta santri di seluruh Indonesia. Potensi ini bisa menjadi modal besar dalam pengembangan usaha halal yang berdaya saing.
Tren global pun mendukung. Laporan State of Global Islamic Economy 2025 memproyeksikan belanja konsumen muslim di enam sektor halal akan meningkat dari US$ 2,43 triliun pada 2023 menjadi US$ 3,36 triliun pada 2028.
“Indonesia sudah berada di peringkat tiga dunia dalam ekosistem ekonomi syariah. Ini momentum besar untuk memperkuat mutu, branding, dan penetrasi produk halal kita ke pasar global,” tegas Ridzky.
Sebagai bagian dari Festival Ekonomi Syariah (FESyar) 2025, BI menghadirkan sejumlah narasumber dari kalangan pelaku usaha. Yakni Paragon, Kopi Kenangan, Ponpes Sunan Drajat Lamongan dan Ponpes Annuqayah Sumenep yang berbagi pengalaman sukses dalam mengintegrasikan nilai syariah dengan inovasi dan branding.
Praktik standar halal, transparansi rantai pasok, hingga model bisnis yang memberi dampak sosial bagi pesantren dan masyarakat menjadi pembelajaran berharga. “Dengan kerja sama yang erat dan niat tulus, insyaAllah ikhtiar kita akan menghadirkan manfaat nyata,” tutup Ridzky.
Eastern Region Segment Business Lead PT Paragon Technology and Innovation, Richa Wahyu Arifani menjelaskan, perusahaannya berpegang pada 2 pilar utama, hablum minallah dan hablum minannas. 2 pilar ini kemudian diwujudkan dalam komitmen pendidikan, lingkungan, serta pemberdayaan perempuan.
Menurut Richa, semakin besar omzet yang dihasilkan perusahaan, semakin besar pula kontribusi sosial yang harus diberikan. Paragon telah menyalurkan beasiswa bagi siswa di seluruh Indonesia serta program pengembangan guru untuk mencetak generasi emas.
Paragon juga meluncurkan kampanye Paragonation sebagai bentuk kontribusi nyata yang lebih luas bagi masyarakat. Spirit ketuhanan, kata Richa, menjadi energi utama yang membuat perusahaan terus berinovasi dan bertransformasi.











