SURABAYA | bidik.news – Sudah saatnya petani kopi milenial mulai mencoba melakukan ekspor kopi. Karena pasar ekspor masih terbuka lebar dan sangat potensial. Pasar lokal saat ini memang tengah bertumbuh dan besar, tetapi terpisah. Sementara pasar ekspor biasanya volume pembelian langsung besar.
Bagaimana peluang ini bisa diambil. Tantangan dan hambatan ada, tetapi itu bisa dipelajari. Yang penting bagaimana petani mendapatkan informasi pasar, punya informasi peluang dan punya keinginan maju.
Hal itu dilontarkan Fernanda Reza Muhammad saat menjadi pembicara di acara “Coffe Talk” dalam rangkaian Java Coffe Culture 2023 (JCC 2023) yang digelar Bank Indonesia (BI) Jatim di Hotel Platinum Surabaya, Sabtu (8/7/2023).
Dibeberkan Fernanda, dari harga pada saat panen yang hanya mencapai 15 ribu – 20 ribu per kilogram di tingkat petani dengan harga ekspor di US$9 hingga US$11 per kilogram. Itu ada gap yang sangat tinggi, Gap ini yang harus di pelajari.
“Mengapa yang menikmati adalah pedagang kopi, bukan petani. Petani hanya ingin ketika panen kopinya langsung terjual. Harus diedukasi, sudah saatnya generasi muda petani milenial bergerak, ini adalah peluang pasar yang bisa diambil, Dan even JCC ini salah satu langkah strategis BI untuk mewujudkan impian tersebut,” ucapnya.
Terlebih Indonesia adalah salah satu negara penghasil kopi terbesar di dunia. Berdasarkan data dari Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA), produksi kopi global mencapai 170 juta kantong per 60 kg kopi pada periode 2022/2023.
Jumlah ini meningkat 2,8% dari periode sebelumnya (year-on-year/yoy) yang tercatat telah memproduksi kopi sebanyak 165,37 juta kantong pada 2021/2022.
Indonesia tercatat sebagai negara penghasil kopi terbesar ke-3 di dunia pada 2022/2023 yang memproduksi kopi sebanyak 11,85 juta kantong. Rincinannya, Indonesia memproduksi kopi arabika 1,3 juta kantong dan kopi robusta 10,5 juta kantong. 75% kopi yang dihasilkan Indonesia, berasal dari daerah dataran rendah di Sumatra Selatan dan Jawa.
Sementara data Badan Pusat Statistik (BPS) Jatim menyebutkan, pada 2022 luas areal tanaman perkebunan kopi di Jatim seluas 113.148 hektare. Seluas 25.730,13 hektare atau setara 22,63% di antaranya pemanfaatan kawasan hutan yang dikelola Perum Perhutani melalui pola agroforestri.
Besarnya potensi kopi di pasaran memiliki tren pertumbuhan, terutama dalam 3 tahun terakhir. BPS Jatim mencatat, pada 2020-2021, Jatim menjadi provinsi dengan nilai ekspor kopi terbesar ke-3 nasional setelah Lampung dan Sumatera Utara.
Rinciannya, nilai ekspor pada 2020 sebesar USD103,4 juta dan pada 2021 sebesar USD133 juta. Pada Oktober 2022, kinerja ekspor kopi dari Jatim mencapai 81.495.107 kg atau dengan nilai ekspor mencapai USD186,22 juta.
“Karena itu, kita harus memiliki strategi agar bisa menaklukkan pasar ekspor. Salah satunya dengan diferensiasi atau kekhususan. Jatim memiliki jenis kopi yang tidak ada di dunia,” ujarnya.
Seperti Kopi Arabika Bondowoso misalnya, satu-satunya produk Kopi Spesialis (Kopi Blue Mountain) di Jatim yang telah mendapatkan Sertifikat Perlindungan Hak Indikasi-Geografis pada tahun 2013. Juga kopi liberika dari Wonosalam yang mengandung sulvur.
“Ini tidak banyak di dunia, ini yang harusnya dijual. Kalau itu dibuat story banner dan diangkat itu sangat luar biasa,” sebutnya.
Saat ini komoditas kopi menjadi komoditas yang cukup seksi, baik di pasar dalam negeri maupun pasar luar negeri. Kenaikan volume konsumsi kopi masyarakat dunia dalam beberapa tahun terakhir menyebabkan komoditas ini sangat dicari di belahan dunia.
Menurut data International Coffee Organization (ICO), konsumsi kopi global mencapai 166,35 juta kantong berukuran 60 kg pada periode 2020/2021. Jumlah itu meningkat 1,3% dibanding periode sebelumnya 164,2 juta kantong berukuran 60 kg.
Uni Eropa menjadi wilayah dengan tingkat konsumsi kopi tertinggi di dunia, yakni 40,25 juta kantong berukuran 60 kg. Disusul Amerika Serikat yang mengonsumsi kopi sebanyak 26,3 juta kantong berukuran 60 kg. Berikutnya Brasil dan Jepang. Indonesia di urutan 5 dengan konsumsi kopi 5 juta kantong berukuran 60 kg. Serta Rusia sebanyak 4,7 juta kantong berukuran 60 kg.









