BIDIK NEWS | SURABAYA – 84 pelajar di Surabaya ditenggarai jadi korban pengguna dan peredaran obat terlarang. Hingga saat ini, belum terbongkar jaringan pengedar yang mendistribusikan pil koplo tersebut ke Jawa Timur, khususnya Surabaya.
Maraknya peredaran pil koplo yang menelan korban pelajar bukan isapan jempol belaka. Fakta pelajar di Surabaya itu diungkap oleh BNNK (Badan Narkotika Nasional Kota) Surabaya. BNNK Surabaya menyodorkan data pecandu, baik korban pil koplo maupun narkoba.
Dari data yang ada di BNNK Surabaya, pada tahun 2016, terdapat 84 pelajar yang direhab. Angka tersebut meningkat pada tahun 2017. Bayangkan saja, per Oktober 2017 saja, ada sekitar 101 pelajar. Rinciannya yaitu 4 pelajar SD, 63 pelajar SMP dan 34 pelajar SMA.
“Kebanyakan yang dikonsumsi oleh pelajar adalah pil koplo berbagai jenis dan narkoba jenis sabu-sabu,” ungkap Kepala BNNK Surabaya AKBP Suparti, Senin (9/4).
Berdasarkan data tersebut, BNNK Surabaya sendiri punya analisis terkait para pelajar yang mengenal narkoba. Dari data yang sudah mereka korek dari para pelajar pemadat ini, kebanyakan adalah pengguna pemula.
“Awalnya karena anak-anak pengin tahu. Ada yang mengenalkan pil koplo maupun narkoba, lalu mereka coba-coba,” imbuh mantan Kassubag Humas Polrestabes Surabaya itu.
Biasanya pelajar yang menggunakan narkoba disebabkan karena buruknya lingkungan pergaulan di luar sekolah. Mereka mengkonsumsi pil koplo maupun narkoba di dekat tempat tinggalnya.
“Mereka punya komunitas di luar sekolah. Pakainya kebanyakan di kampungnya, lalu ketahuan saat kami menggelar tes urine di sekolah,” tambah Suparti.
Terkait tes urine sendiri, BNNK Surabaya selalu berkordinasi dengan Pemerintah Kota (Pemkot). Setiap seminggu sekali, mereka rutin menyambangi sekolah-sekolah secara acak.
Selama menjalankan tes urine tersebut, sekolah-sekolah yang ada di kawasan Surabaya Utara menjadi penyumbang terbanyak, pelajar yang terjerat pil koplo maupun narkoba.
Berkaca pada data tersebut, BNNK Surabaya berharap agar semua pihak bekerja sama. Termasuk para orang tua dan masyarakat di sekitar lingkungan rumah.
Sebab para orang tua para pelajar yang tersandung pil koplo dan narkoba ini terlambat mendeteksi pergaulan anaknya. Mereka rata-rata berasal dari golongan ekonomi menengah ke bawah.
“Justru disayangkan saat kesusahan ekonomi, anak-anaknya malah terjerembab pil koplo dan narkoba. Solusinya adalah perhatian. Tidak hanya orang tua kandung sendiri, tapi semua masyarakat. Semua harus jadi orang tua untuk anak-anak,” jelasnya.
Suparti menegaskan, pada tahun 2018 ini, pihaknya terus meningkatkan sosialisasi terhadap pelajar di sejumlah sekolah di Surabaya. Upaya itu dilakukan untuk menekan angka pelajar yang terjebak dalam pusaran pil koplo maupun narkoba.
“Saat ini, kami juga tengah fokus mengawasi peredaran vapor yang bisa membuat para pelajar kecanduan. Kami sangat prihatin dan khawatir atas temuan itu. Selain itu, peredaran pil koplo dan narkoba juga tetap kami pantau dan tindak,” pungkasnya.Riz










