Indosat Ooredoo, UNDP dan Kementerian Koperasi UKM Luncurkan Survei Kinerja Masa Pandemi

0
47
indosat
Survei mengungkapkan, UMKM Indonesia mengalami tekanan di masa pandemi, namun ada potensi besar dalam praktik usaha ramah lingkungan. Tampak peluncuran hasil survey dampak pandemi Covid-19 terhadap sektor UMKM di Indonesia, Kamis (14/10/2021). (Ist)

JAKARTA — Sebagian besar Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) di Indonesia mengalami dampak PPKM darurat, seperti penurunan permintaan, laba, dan nilai aset pendapatan. Demikian hasil survei terkait pandemi dan praktik usaha ramah lingkungan yang diluncurkan United Nations Development Programme (UNDP), Kementerian Koperasi dan UKM Indonesia, serta Indosat Ooredoo, Kamis (14/10/2021).

Survei juga mengungkapkan hasil yang menjanjikan terkait potensi usaha ramah lingkungan di Indonesia. Sekitar 95% UMKM menyatakan minatnya pada praktik usaha ramah lingkungan, dengan usaha milik perempuan menunjukkan minat yang lebih kuat. Sebanyak 90% lainnya mengatakan mereka tertarik menerapkan praktik usaha inklusif, yang merupakan komponen penting dari agenda Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG).

Survei dilakukan secara daring dengan menyebarkan pesan singkat (SMS) berisi link survei yang dikirimkan Indosat Ooredoo kepada target responden dari sektor UMKM di Indonesia. Sekitar 3.000 UMKM ikut dalam survei yang berisi 58 pertanyaan tentang dampak pandemi Covid-19 terhadap sektor UMKM, khususnya pada awal pandemi di 2020 dan selama masa pemberlakuan PPKM darurat pada Juli dan Agustus 2021.

Pertanyaan difokuskan pada permintaan terhadap produk, keuntungan selama masa awal pandemi Maret – Juni 2020 dan membandingkan temuan serupa selama periode PPKM darurat yang diterapkan pada Juli dan Agustus 2021. Pertanyaan juga fokus pada potensi usaha ramah lingkungan dan digitalisasi di Indonesia.

Survei itu juga menemukan bahwa beberapa UMKM mengalami kerugian lebih dari 50% antara bulan-bulan awal pandemi pada 2020 dan PPKM darurat pada pertengahan 2021, khususnya di Jawa dan Bali.

Menteri Koperasi dan UKM Indonesia, Teten Masduki yang menghadiri acara peluncuran laporan ini secara virtual meminta UMKM untuk mengadopsi praktik usaha ramah lingkungan serta berkelanjutan.

“Langkah-langkah mencari keuntungan yang merusak lingkungan harus kita tinggalkan. Kegiatan ekonomi termasuk produksi, konsumsi dan distribusi harus memprioritaskan kebutuhan untuk meningkatkan kualitas pembangunan manusia dalam jangka panjang. Banyak pengusaha muda telah meluncurkan usaha yang menghasilkan barang-barang ramah lingkungan, kita harus terus mendukung usaha-usaha ramah lingkungan ini,” ungkap Teten.

Studi ini juga mengungkapkan manfaat langsung dari digitalisasi. UMKM yang bergabung dengan platform daring untuk memasarkan produk mereka selama pandemi Covid-19 mencatat permintaan yang lebih tinggi terhadap produk mereka dan keuntungan yang lebih besar, dibanding dengan UMKM lain yang telah menggunakan platform tersebut sebelum masa pandemi, dan mereka yang usahanya dijalankan sepenuhnya secara luring.

Walaupun pandemi membawa dampak serupa pada UMKM yang dimiliki perempuan dan pria, survei mengungkapkan, perempuan lebih rentan kehilangan pekerjaannya. Selain itu, hanya 19,7% UMKM milik perempuan yang melaporkan mencari bantuan dari program bantuan tunai dari Pemerintah (BPUM) dibanding dengan 26,9% UMKM milik laki-laki.

Berdasarkan survei 45,2 % UMKM masih beroperasi normal, 30.9% UMKM masih beroperasi sebagian  dan bahkan tidak ada yang berniat menutup usaha secara permanen ditengah PPKM Darurat. Intervensi pemerintah juga telah mampu meningkatkan ketahanan UMKM meskipun cakupannya masih harus diperluas.

Kepala Perwakilan UNDP Indonesia, Norimasa Shimomura meminta para pemangku kepentingan bekerja sama meningkatkan sektor UMKM seiring pertumbuhan ekonomi negara yang lebih baik.

“Kesempatan sekarang ada ditangan kita. Kita harus menangkap peluang untuk transisi yang lebih berani menuju ekonomi hijau dengan praktik usaha yang lebih inklusif. Rilis penelitian ini menegaskan, sebagian besar pelaku usaha berpengaruh di sektor UMKM sangat menginginkan perubahan. Saya berharap laporan ini dan dialog kebijakan hari ini memberikan wawasan yang lebih tajam tentang sektor UMKM dan mendorong diskusi tentang kebijakan yang dapat membantu UMKM mengatasi tantangan mereka saat ini,” kata Shimomura.

Sementara Vikram Sinha, Director & Chief Operating Officer Indosat Ooredoo, mencatat pentingnya percepatan transformasi digital di Indonesia.

“Kemitraan kami dengan UNDP dan Kementerian Koperasi dan UKM telah membantu kami memahami manfaat digitalisasi bagi masyarakat. Kolaborasi ini dapat membantu menginformasikan sektor UMKM tentang praktik terbaik menghadapi tantangan di masa depan, berapapun besarnya. Kami bangga mempersembahkan studi bersama ini yang kami harap dapat digunakan oleh para pembuat kebijakan untuk memanfaatkan peluang dalam digitalisasi dan praktik usaha ramah lingkungan,” ujarnya.

Survei tersebut merupakan studi ke-2 berturut-turut yang dilakukan terhadap dampak pandemi terhadap UMKM. Sebuah studi 2020 tentang dampak bulan-bulan awal pandemi mengungkapkan hasil serupa dengan mayoritas UMKM melaporkan bahwa mereka mengalami dampak parah pada permintaan dan faktor lainnya.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here