Prof. Subroto : Peran Media Sangat Dibutuhkan dalam Pengembangan Energi Terbarukan

0
42
Foto 1 : Prof. Subroto, Dewan Pengawas Aspermigas.saat membuka pelatihan media 'Pengenalan Panas Bumi dan Bisnis Prosesnya' yang digelar Aspermigas bersama Oil & Gas Indonesia selama 2 hari secara virtual, Sabtu dan Minggu (25-26/9/2021). (Ist)

JAKARTA – Peran media dalam menyampaikan informasi yang komprehensif terkait pengembangan energi panas bumi sangat dibutuhkan oleh para pelaku usaha geothermal dan pihak pemerintah. Dengan pemberitaan yang tepat, pengembangan panas bumi diharapkan bisa terus meningkat di masa depan.

Hal itu dilontarkan Subroto, Dewan Pengawas Asosiasi Perusahaan Migas (Aspermigas) saat membuka pelatihan media ‘Pengenalan Panas Bumi dan Bisnis Prosesnya’ yang diadakan Aspermigas bersama Oil & Gas Indonesia selama 2 hari secara virtual, Sabtu dan Minggu (25-26/9/2021). “Media mempunyai peran yang sangat penting dalam hal ini,” tegasnya.

Prof. Subroto : Peran Media Sangat Dibutuhkan dalam Pengembangan Energi Terbarukan 1
Foto 2 : Agus Sudibyo, Ketua Komisi Hubungan Antar Lembaga dan Luar Negeri Dewan Pers. (Ist)

Lewat pelatihan media ini, Aspermigas dan Oil & Gas Indonesia berharap bisa memberikan penerangan, penjelasan serta pencerahan kepada para jurnalis dan pelaku media agar bisa menyampaikan pemberitaan yang tepat terkait industri panas bumi kepada publik.

“Pelaku-pelaku media ini menjadi jembatan emas sampai penjelasan, penerangan kepada masyarakat, perusahaan dan pelaku industri,” ucap mantan Sekjen OPEC ini.

Ditambahkan oleh Menteri Pertambangan dan Energi periode tahun 1978-1988 ini, peran media sangat dibutuhkan dalam pengembangan energi terbarukan di Indonesia. “Teman-teman wartawan adalah teman berjuang bagi kita untuk bisa menyediakan energi yang terbarukan, bersih, dan mudah-mudahan terjangkau oleh masyarakat,” ujarnya.

Sementara Agus Sudibyo, Ketua Komisi Hubungan Antar Lembaga dan Luar Negeri Dewan Pers menambahkan, pers atau media massa berkontribusi besar dalam mengarusutamakan energi terbarukan termasuk energi panas bumi. Apalagi di tengah transformasi media massa yang terjadi saat ini, di mana gempuran informasi baik yang benar maupun hoax marak ditemukan di berbagai media sosial.

“Dalam berbagai isu, termasuk dalam isu energi, media massa harus benar-benar berpegang teguh pada good journalism atau public journalism. Jadi jurnalisme harus benar-benar memfasilitasi informasi yang bermartabat, memfasilitasi ruang publik yang beradab, dengan liputan dan tulisan yang lebih baik,” sambungnya.

Agus mengingatkan agar media massa tidak terjebak pada konten jurnalisme yang tidak baik atau bahkan menjurus pada fake news alias berita bohong.

“Kita sebagai media massa tidak perlu menggarap di situ. Kita garap hal yang semakin sulit didapatkan oleh publik di media sosial yaitu good journalism atau public journalism,” tutur Agus.

Terkait peliputan di sektor energi, khususnya panas bumi, Agus menyarankan agar para jurnalis bisa memiliki perspektif atau wawasan yang memadai dalam bidang tersebut. “Harus profesional, dalam arti kalau tidak paham ya harus bertanya pada ahlinya seperti Prof. Subroto dan teman-teman. Dan jangan terjebak pada orang yang mengaku ahli tetapi sebenarnya diragukan kompetensinya untuk bicara pada bidang-bidang yang spefisik seperti energi terbarukan ini,” paparnya.

Selain profesional, dalam pemberitaan terkait energi panas bumi, menurut Agus, para jurnalis juga harus menjaga independensinya alias tidak menjadi player atau bagian dari persoalan.

“Juga harus menaati etika jurnalistik, cover both side, berimbang, menjaga asas praduga tak bersalah, memisahkan fakta dan opini, menulis sesuai dengan fakta, menguji kebenaran informasi, memiliki sikap kritis tertentu terhadap narasumber, dan harus bisa menghadirkan kritik kebijakan,” bebernya.

Lebih lanjut Agus memiliki gagasan yaitu jurnalisme energi terbarukan yang ke depannya harus bisa lebih diarusutamakan oleh Dewan Pers, asosiasi media, asosiasi energi, serta pemerintah. Jurnalisme energi terbarukan ini menurut Agus membutuhkan panduan serta kurikulum untuk para jurnalis dalam meliput dan menulis soal energi terbarukan.

“Kami di Dewan Pers sudah lama memiliki impian agar sertifikasi wartawan bukan hanya bersifat umum tetapi pada bidang-bidang yang spesifik, misalnya sertfikasi wartawan perbankan, wartawan ekonomi, wartawan perkebunan, dan mungkin juga wartawan energi atau wartawan energi terbarukan,” urainya.

Agus sendiri menyambut positif kegiatan pelatihan dan pengenalan panas bumi yang diselenggarakan Aspermigas dan Oil & Gas Indonesia. Tercatat lebih dari 40 jurnalis yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia turut aktif menyimak materi serta bertanya secara langsung kepada para ahli tentang persoalan pengembangan panas bumi di Tanah Air.

Sejumlah pakar turut mengisi pelatihan yang juga turut dibuka oleh Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM Eko Budi Lelono ini. Pada hari pertama ada Moch. Abadi, Direktur JSK Petroleum Academy, yang menyampaikan materi pengenalan dan sejarah panas bumi di Indonesia. Masih ada lagi Yudi Hartono dan Ashadi dari Jakarta Drilling Society yang memaparkan soal kegiatan eksplorasi dan produksi panas bumi.

Lalu pada hari kedua pelatihan dibuka oleh Moshe Rizal, Sekjen Aspermigas. Pemateri yang tampil antara lain Sentot Yulianugroho, Manager Government Public Relations Pertamina Geothermal Energy. Lalu ada Win Sukardi, Anggota Dewan National Centre for Sustainability Reporting (NCSR) Divisi Energy yang membahas soal SCM di panas bumi, serta Ketua Umum NCSR Sugeng Riyono yang mengangkat isu dampak lingkungan dan sustainability reporting dalam kegiatan operasi panas bumi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here