Warga Desa Watuagung Laporkan Dugaan Pemotongan Bansos Ke Kejari Gresik.

0
43
Foto : Perwakilan warga saat melaporkan dugaan pemotongan Bansos ke Kajari Gresik, yang diterima lansung oleh staff Pidsus Kejari Gresik.

GRESIK – Merasa bantuan sosial (Bansos) Program Keluarga Harapan (PKH) di Desa Watuagung, Kecamatan Bungah, Kabupaten Gresik disunat, tiga warga melakukan pelaporan secara resmi ke Kantor Kejaksaan Negeri (Kejari) Gresik, Jumat (24/09/2021).

Tiga warga Desa Watuagung merupakan perwakilan dari 150 penerima Bansos, melaporkan Zainul mantan Sekdes Watuagung atas dugaan pemotongan dana bansos yang diterima warga dengan jumlah bantuan yang berbeda.

Ketiga warga perwakilan membawa berkas bukti adanya bantuan yang diterima warga serta berkas rekening koran, serta bukti lain yang menunjang bahwa bansos yang diterima warga banyak terjadi pemotongan.

Dikantor Kejari Gresik, pelapor diterima lansung oleh staf bagian tindak pidana Khusus (Pidsus) Vembri Dedi K dan mereka juga telah mendapatkan tanda terima laporan.

” Hari ini kita lapor ke kejaksaan atas dugaan pemotongan bantuan PKH di Desa Watuagung. Kita berharap, laporan segera ditindaklanjuti agar kami mendapatkan rasa keadilan. Pasalnya, banyak warga masyarakat yang tidak menerima bantuan akan tetapi di print rekening ada pencairan,” tegas Abdul Malik salah satu pelapor.

Lebih lanjut dikatakan Malik, pihaknya memiliki bukti bahwa hasil print rekening koran ada perpindahan transaksi dari Rekening Keluarga Penerima Manfaat (KPM) ke rekening pribadi atas nama Zainul, jumlahnya pun variatif ada yang 350 ribu sampai 500 ribu.

Kasipidsus Kejari Gresik, Dymas Adji Wibowo ketika dikonfirmasi mengatakan bahwa laporan sudah terima. Selanjutnya, pihaknya akan mempelajari laporan tersebut apakah mengandung unsur pidana korupsi atau tidak.

” Kami akan laporkan dulu ke pimpinan atas laporan dugaan pemotongan bansos ini. Kami akan pelajari dulu,” tegas Dymas.

Sementara itu, terduga terlapor, Zainul saat dikonfirmasi menjelaskan, bahwa dirinya memang sebagai agen PKH. Bertugas membantu para KPM melakukan pancairan uang melalui mesin Electronic Data Capture (EDC).

“Kalau lewat mesin EDC kan uangnya tidak langsung keluar, beda sama ATM. Makanya KPM saya kasih uang kes, dan saldo KPM saya pindah ke rekening pribadi saya,” ungkapnya.

Dirinya siap memberikan keterangan yang dibutuhkan karena bukti transaksi struk dan tanda terima pencairan bantuan sampai Oktober 2020 dipegang pendamping PKH. Saat itu masih pendampingnya bernama Nurul.

Ketika disinggung adanya transaksi penarikan ATM KPM di Watuagung yang melibatkannya, Zainul membantah. Dia menyebut jika yang menarik ATM adalah ketua kelompok. “Saya hanya bertugas mencairkan saja, setelah selesai, ATMnya saya serahkan lagi ke ketua kelompoknya,” jelasnya. (Him)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here