Wartawan Juga Manusia, Masih Bisa Tertipu (1)

    Serial Tipu-tipu di Tengah Pandemi

    0
    340
    KTP ASPAL

     

    Dimasa Pandemi yang serba sulit, pergerakan fisik manusia dibatasi, serta perputaran keuangan yang terasa seret, terkait banyak dirumahkan , bahkan tidak menerima honor sama sekali.

    Kehidupan didalam rumah tangga harus tetap berjalan, makan tetap 3 kali sehari dengan kalori dan gizi yang cukup, listrik mesti dibayar atas pemakaian, PDAM juga mesti di bayar, alat komunikasi terutama telepon seluler juga mesti beli pulsa, anak – anak ketika bermain juga mesti beli mainan dan jajan tidak bisa di tunda.
    Ketika kebutuhan semakin meningkat, tidak didukung oleh pendapatan yang stabil, bisa jadi jalan pintas yang dilakukan.

    Penulis akan menurunkan beberapa tulisan terkait modus penipuan yang semakin marak di masyarakat, dengan harapan kita semakin berhati hati dan semakin bijak, kejadian ini dialami penulis dan juga dari beberapa sumber.

    Wartawan senior ( sebut saja A ) yang memang gemar menolong sesama saat jelang Magrib ditelpon melalui GSM, si penelepon bertanya ,” Benar ini dengan cak W yang wartawan XXX ? apa kabar ? “. begitu pembukaan pembicaraan.

    Kurang dari 5 menit sudah cerita soal teman SD dan SMP, dan sekarang merantau di Kalimantan bekerja di PT YYY yang mengurusi pengangkutan batubara ke pelabuhan dengan 200 truk.

    Karena berada didaerah pertambangan dan jauh dari kota, dan jauh dari counter penjual pulsa, selama ini, kalau membeli pulsa baru masuk 30 menit bahkan bisa 1 jam, karena nomer ponsel dari Jawa, harga juga selisih lumayan, belum termasuk yang surat kesehatan dan dusah mendapatkannya.

    Singkat cerita, si teman yang pernah satu bangku ini minta tolong di belikan pulsa untuk 3 nomer GSM @ Rp 100.000.- an, begitu pulsa masuk yang hanya hitungan detik, maka disepakati untuk membeli untuk 200 nomer GSM dan termasuk membayar 3 nomer yang sudah dikirim dengan cara transfer.

    ” Mas, ini aku akan ke kota untuk setor tunai dan sekaligus transfer, dengan dikawal, mohon ditunggu ya ,” begitu bunyi telpon GSM dari pulau seberang.

    Selang 20 menit mengirim resi transfer antar bank , yang ber nilai 28 juta, saat itu juga langsung telpon,” Mas, itu sdh di transfer lewat bank yang berbeda, karena bank yang sama letaknya lumayan jauh, duit akan masuk bertahap karena incaso, dan biar aku juga lancar, segera dikirim pulsa @ 100 ribu an pada 20 nomer GSM yang dikirim via WA “, jelas si penelepon dari seberang pulau.

    Untuk meyakinkan, si penerima telpon ini menuju ATM yang berjarak 5 menit, dan saldo masih tetap alias tidak bertambah, sementara si penelepon meminta dengan segera dikirimi pulsa karena sopir truk segera di berangkatkan, sampai 1.jam tidak ada perubahan di saldo bank, maka telepon dari seberang itu tidak diangkat dan di biarkan, meskipun dijelaskan bahwa kiriman belum masuk sehingga yang disini tidak bisa membelikan pulsa, tetapi yang diseberang sana ngotot menelpon untuk meminta kiriman pulsa.

    3 jam tidak ditanggapi, si penelepon memblokir WA nya si wartawan.

    Si wartawan senior ini dengan enteng berkata,” Sejak awal, sudah mulai curiga dengan gaya telpon yang selalu mendesak dan minta cepat cepat, karena penelepon yang ditengarai pernah 1 bangku jaman SD dan SMP serta menjadi saudara karena perkawinan, maka di coba kirim 3 nomer, ketika transfer ditunggu beberapa lama dan uang tidak masuk, maka sudah yakin kalau itu modus penipuan,” terangnya. ( ali/ bersambung ).

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here