Sasar Kawasan Afrika Utara, Kemendag Terus Pacu Ekspor Produk Pangan Olahan Indonesia

0
838
Dirjen Pen Kemendag, saat webinar.

JAKARTA. Berbagai upaya dikerahkan Kementerian Perdagangan untuk menggenjot salah satu komoditas ekspor utama, yaitu produk makanan dan minuman, di tengah pandemi Covid-19. Setelah sebelumnya seminar web (webinar) digelar untuk menyasar pasar Jepang dan Amerika Serikat, kini giliran kawasan Afrika Utara.

Webinar bertema “Akses Pasar Produk Pangan Indonesia ke Pasar Mesir di Era Pandemi Covid-19” digelar pada Kamis (02/07/2020). Webinar terselenggara atas kerja sama Kementerian Perdagangan melalui Direktorat Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional dengan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Kairo dan Atase Perdagangan di Kairo.

“Kawasan Afrika Utara, khususnya Mesir, merupakan pasar yang menjanjikan bagi produk pangan olahan dari Indonesia. Melalui webinar ini, diharapkan akses pasar produk pangan ke Mesir dapat dimanfaatkan dengan optimal,” jelas Kasan saat memberikan pidato kunci.

Indonesia, lanjut Kasan, berpeluang besar meningkatkan ekspor pangan olahan di pasar global. “Saat ini kita melihat peluang makanan olahan menjadi alternatif pilihan yang dicari masyarakat karena dapat disimpan lebih lama dibandingkan pangan segar. Selain itu, masyarakat cenderung lebih memilih masak di rumah dan menyukai produk-produk yang bernutrisi, memenuhi keamanan pangan dan terjaga higienitasnya,” ungkapnya.

Menurut Kasan, dampak pandemi Covid-19 terhadap perdagangan global, antara lain terjadinya perubahan pola perdagangan global, peningkatan biaya logistik, kerja sama perdagangan tidak berjalan efektif, dan adanya ancaman resesi ekonomi global.

Sedangkan, dampaknya bagi perdagangan nasional, yaitu meningkatkan potensi inflasi barang pokok dan penting akibat terganggunya logistik dan distribusi, terhambatnya aktivitas perdagangan antarpulau, terjadinya perubahan pola konsumsi masyarakat, serta melemahnya daya beli masyarakat.

Kasan juga menyampaikan, di tengah pandemi Covid-19, pemerintah menyusun beberapa strategi guna meningkatkan ekspor makanan olahan Indonesia di pasar global. Pertama, menentukan fokus pasar dan produk ekspor unggulan. Ada lima produk ekspor makanan olahan Indonesia terbesar ke Mesir pada 2019, yaitu saus, bumbu, dan rempah; olahan ikan, tuna; sugar confectionary yang tidak mengandung kakao, olahan ikan, sarden; serta makanan. Selain itu, produk makanan olahan Indonesia yang potensial di Mesir yaitu produk perikanan, food preparations, kopi, cokelat, biskuit dan makanan ringan.

Kedua, meningkatkan penetrasi pasar dengan melakukan penyelesaian perundingan dan hambatan perdagangan, serta penguatan promosi dagang dan branding. Peningkatan penetrasi pasar juga dilakukan melalui penyelenggaraan webinar, penjajakan kesepakatan dagang virtual, serta pendampingan ekspor selama pandemi.

Ketiga, memperkuat peran perwakilan perdagangan di luar negeri. Keempat, melakukan relaksasi ekspor dan impor untuk tujuan ekspor.

“Kami terus berupaya untuk selalu memberikan kontribusi dalam peningkatan ekspor, salah satunya dengan memfasilitasi kegiatan perdagangan. Berbagai potensi pasar harus terus digali agar ekspor produk Indonesia, khususnya pangan olahan, dapat terus meningkat,” ujar Kasan.

Atase Perdagangan Kairo Irman Adi Purwanto Moefthi menambahkan, perwakilan perdagangan akan segera membentuk forum guna memfasilitasi kegiatan perdagangan di Kairo. Tujuannya yaitu agar para pelaku usaha dapat terhubung dengan buyers sehingga para pelaku usaha dapat menangkap peluang pasar yang tersedia.

Sementara itu, Country Manager Salim Wazaran Abu Alata Co. Ltd. Gunawan Hariyanto mengatakan, hubungan baik antara Indonesia dengan Mesir yang terjalin selama ini membuka peluang ekspor yang lebih besar. “Kami mengimbau bagi para pelaku usaha untuk maju menembus pasar Mesir. Kami bersedia membantu memberikan informasi dasar tentang pasar Mesir yang dapat digunakan sebagai acuan awal para pelaku usaha memulai bisnisnya di Mesir,” kata Gunawan.

Gunawan juga menjelaskan perlunya legalitas produk dengan mendaftarkan brand terlebih dahulu di Mesir. Selanjutnya, diperlukan pengawasan dan pemantauan, salah satunya dengan memanfaatkan tenaga mahasiswa Indonesia di Mesir. “Sebagai salah satu negara tujuan wisata, dipastikan Mesir memiliki fasilitas-fasilitas yang dapat membantu para pelaku usaha untuk memperluas bisnisnya,” pungkas Gunawan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here