JPU Tuntut Sales CV Maju Mapan Jaya 2 Tahun Penjara

0
500
Foto : Terdakwa Ariyanto Laloan (kanan) sat sidang telekonferensi di PN Surabaya.(Jak)

SURABAYA – Jaksa Penuntut Umum (JPU) Siska Christina dari Kejaksaan Negeri Tanjung Perak akhirnya menuntut Ariyanto Laloan, terdakwa perkara penggelapan uang milik CV Maju Mapan Jaya selama 2 tahun penjara.

Dalam surat tuntutannya, JPU Siska menyatakan terdakwa telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana penggelapan dalam jabatan sebagaimana diatur dalam pasal 374 KUHPidana.

“Memohon kepada majelis hakim yang mengadili perkara ini, menjatuhkan pidana terhadap terdakwa Ariyanto Laloan, dengan pidana penjara selama 2 tahun, dikurangkan selama terdakwa berada dalam tahanan,”ucap JPU Siska saat membacakan surat tuntutannya di ruang sidang Cakra, Pengadilan Negeri Surabaya, Rabu (01/07/2020).

Atas tuntutan ini, terdakwa Ariyanto memohon kepada majelis hakim dan pemilik CV. Maju Mapan Jaya, Chiawu, untuk meringankan hukuman atas perbuatan yang telah dilakukannya.

“Yang mulia majelis hakim dan bos saya Pak Chiawu saya mohon dengan sangat dari lubuk hati yang mulia paling dalam untuk meringankan hukuman saya. Saya berjanji tidak mengulangi lagi dan saya menyesal. Saya sangat menyesali perbuatan saya, pak Chiawu sudah sangat baik sekali,” ujar terdakwa terbata-bata.

Ketika diminta tanggapannya terkait pembelaan terdakwa, JPU Siska tetap bersikukuh pada tuntutannya. “Tetap pada tuntutan yang mulia,”tukas JPU Siska.

Selanjutnya, ketua majelis hakim Suparno menunda persidangan dan akan dilanjutkan dengan pembacaan putusan pada sidang yang akan datang, Rabu (8/7/2020).

“Untuk hukumannya akan kami pertimbangkan nanti. Pembacaan putusan akan kita gelar pada persidangan akan datang hari Rabu,” tandas hakim Suparno.

Dalam sidang sebelumnya, Jaksa Penuntut Umum (JPU) menghadirkan saksi Chiawu selaku pemilik CV Maju Mapan Jaya dan saksi Evi Oktavia selaku admin keuangan CV Maju Mapan Jaya melakukan audit uang tagihan terhadap sales.

Menurut saksi Chiawu sejak bulan Juli 2018 sampai tahun 2019 terdakwa Ariyanto melakukan penjualan alat tulis kantor ke beberapa toko namun uang tagihanya tidak disetorkan.

“Bulan Nopember 2018 uang yang dipakai pertama sekitar Rp 105 juta lebih, yang kedua Januari 2019 kerugiannya sekitar Rp 63 juta dan yang terakhir sekitar Rp 48 juta. Yang pertama tidak saya laporkan kepolisi karena dia minta maaf membuat surat pernyataan yang isinya mengakui kesalahannya dan bersedia membayar dengan cara dipotong uang komisi dan gajinya sampai lunas. Yang kedua mau saya laporkan, tapi istrinya nangis-nangis mau melahirkan. Yang ketiga dia melarikan diri baru setelah itu saya laporkan ke polisi,” ucap Chiawu dihadapan majelis hakim yang diketuai Suparno.

Lanjut Chiawu, dari pemilik CV Maju Mapan Jaya tersebut, terdakwa yang bekerja sebagai sales dan penagihan menerima gaji pokok Rp 4,5 juta, uang transport dan biaya supir Rp 1,3 juta

“Serta mendapatkan komisi sebesar 1% dari total penjualan barang,” pungkasnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here