Terdakwa Hadi Purnomo bersama JPU Winarko

SURABAYA – Majelis hakim yang diketuai oleh Sutarno, akhirnya menjatuhkan vonis kepada terdakwa Hadi Purnomo, dengan pidana penjara selama 11 tahun, karena terbukti menggelapkan uang perusahaan sebesar Rp. 19 miliar, saat sidang di Pengadilan Negeri Surabaya, Kamis (07/11/2019).

Dalam amar putusannya, majelis menyatakan terdakwa Hadi Purnomo telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana sebagaimana diatur dalam pasal 374 KUHP.

“Menghukum terdakwa Hadi Purnomo dengan pidana penjara selama 11 tahun penjara serta pidana denda sebesar Rp. 2 miliar subsidiair 1 tahun penjara potong masa tahanan,”ucap hakim Sartono saat membacakan amar putusannya di ruang Sari 1.

Selain hukuman pidana dan denda, hakim juga memerintahkan agar terdakwa mengembalikan uang perusahaan dengan menyita aset tanah dan perhiasan milik terdakwa.

Hal yang memberatkan terdakwa mengkhianati perusahaan yang memberinya nafkah dan perbuatannya merugikan perusahaan. Hal yang meringankan terdakwa berterus terang dan tidak pernah dihukum.

Atas putusan tersebut, terdakwa Hadi Purnomo melalui penasihat hukumnya, menyatakan pikir-pikir. Sedangkan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Winarko dari Kejaksaan Tinggi Jatim menyatakan terima.

Untuk diketahui, terdakwa Hadi Purnomo yang menjabat sebagai Kepala Bagian Administrasi dan Keuangan PT. Hasjrat Abadi Cabang Surabaya, terdakwa mempunyai tugas dan tanggungjawab mengatur keuangan (anggaran, pembayaran biaya operasional, pembayaran ke pihak ke III) serta membuat, mencatat, melaporkan administrasi keuangan kepada Kepala PT. Hasjrat Abadi Cabang Surabaya.

Modus dari terdakwa adalah ketika setiap tagihan dari pihak ke III yang diajukan ke PT. Hasjrat Abadi pusat ternyata tidak seluruhnya dilakukan pembayaran oleh terdakwa sebagai Kepala Bagian Administrasi Keuangan PT. Hasjrat Abadi Cabang Surabaya.

Terdakwa tanpa seijin dan sepengetahuan Pimpinan Cabang PT. Hasjrat Abadi di Surabaya mapun Ruly Lontoh (alm) selaku Direktur PT. Hasjrat Abadi, mengalihkan setiap pembayaran tagihan ke rekening pribadinya dan juga rekening isterinya.

Kemudia bagian keuangan PT. Hasjrat Abadi Kantor Pusat Jakarta meminta masing-masing cabang  PT. Hasjrat Abadi agar mengumpulkan print out rekening koran. Selanjutnya setelah dilakukan pengecekan terhadap print out rekening koran dan resi BG (pangkal bilyet giro), Aris Rahmatdi selaku manager litigasi PT.  Hasjrat Abadi Pusat Jakarta menemukan kejanggalan transaksi keuangan tahun periode bulan Januari 2018 sampai dengan Juli 2018 yaitu menemukan adanya uang milik perusahaan dipindahbukukan ke rekening pribadi sehingga dilakukan pemeriksaan terhadap transaksi keuangan periode bulan Januari 2012 sampai dengan bulan Juli 2018.

Bahwa akibat perbuatan terdakwa yang menggunakan uang perusahaan tanpa seijin dan sepengetahuan dari pimpinan PT. Hasjrat Abadi tersebut mengakibatkan PT. Hasjrat Abadi mengalami kerugian kurang lebih sebesar Rp. 19 miliar. (J4k)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here