Foto : Terdakwa Agus Setiawan Marsha saat disidang di PN.Surabaya.(Jaka)

SURABAYA | Agus Setiawan Marsha, terdakwa dalam kasus kepemilikan narkoba jenis pil ekstasi sebanyak 10 butir, menjalani sidang perdana di Pengadilan Negeri Surabaya dengan agenda pembacaan dakwaan, Rabu (06/11/2019).

Dalam perkara ini, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Muhammad Nizar dari Kejaksaan Tinggi Jawa Timur, mendakwa Agus telah melakukan tindak pidana secara tanpa hak atau melawan hukum menawarkan untuk dijual, menjual membeli, menerima, menjadi perantara dalam hal jual beli, menukar atau menyerahkan Narkotika Golongan I.

“Terdakwa di dakwa telah melanggar pasal 114 ayat (1) Undang-Undang Republik Indonesia Nomer 35 Tahun 2009 tentang Narkotika,”ucap JPU M. Nizar saat membacakan surat dakwaannya di ruang Sari 3.

Atas dakwaan JPU, terdakwa Agus langsung membenarkan saat diminta tanggapannya oleh majelis hakim yang diketuai oleh hakim Eddy Soeprayitno.

Benar yang mulia,”ujar Agus

Hakim Eddy kemudian menawarkan kepada terdakwa apakah didampingi pengacara atau tidak. Mengingat pasal yang didakwakan oleh JPU, tergolong berat karena diancam dengan hukuman tinggi.

“Iya pak hakim, saya didampingi (pengacara),”kata terdakwa.

Ketika dirasa cukup, hakim Eddy kemudian menunda persidangan pekan depan dengan agenda pemeriksaan saksi. “Kita tunda sidang pada pekan depan,”pungkas hakim disusul ketukan palu tanda sidang berakhir.

Untuk diketahui, pada tanggal 23 Juli  2019 sekitar pukul 21.00 Wib di pinggir Jln Kalimas Kel Krembangan Utara Kec Pabean Cantikan Kota Surabaya, petugas dari Ditresnarkoba Polda Jatim telah melakukan penangkapan terhadap terdakwa.

Saat dilakukan penggeledahan, ditemukan satu bungkus plastik berisi 10 butir pil ecstasy warna hijau muda logo minion yang kemudian dilakukan penimbangan dengan berat seluruhnya 4,51 (empat koma lima puluh satu) gram beserta bungkusnya.

Terdakwa mengaku barang haram tersebut didapat dari Nanang (DPO). Setiap kali terdakwa Agus di suruh oleh Nanang (DPO) untuk mengantarkan narkotika jenis pil ecstasy tersebut, mendapat keuntungan atau upah sebesar Rp. 50 ribu untuk sekali jalan pengantaran.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here