FOTO : Ibu-ibu saat membuat kerajinan disalah satu gua.(Syamsul)

 SAMPANG | BIDIK NEWS – Ibu-ibu warga Desa Birem Kecamatan Tambelangan Sampang ramai-ramai buat kerajinan tikar di dalam sebuah gua . Hal ini dilakukan akibat musim kemarau saat ini ,
Seperti diketahui pada awalnya pekerjaan sehari-hari mereka , hanya sebagai petani , karena akibat krisis air dan musim kemarau panjang. Halimah salah seorang warga Desa Birem, Sampang , yang juga salah satu pengrajin tikar berbahan daun pandan duri , membuat kerajinan ini bersama tetangga, dengan alasan demi untuk memenuhi kebutuhan keluarga pada musim paceklik ,” untuk memenuhi kebutuhan se hari- hari
agar dapur di rumah tetap terus mengepul,” ujarnya.

Bahkan ia mengaku , sekarang daerahnya sedang terdampak krisis air bersih selama musim kemarau. Sehingga tidak mungkin mereka memaksakan diri bertani dalam kondisi keterbatasan air. Sehingga memilih membuat tikar untuk dijual kepada masyarakat.
Hasil pembuatan tikar langsung dijual dengan harga Rp. 60 ribu sampai Rp. 120 ribu. Itu tergantung ukuran dan kerapian anyaman tikar tersebut .
Kerajinan itu, sudah dilakukan secara turun-temurun sejak zaman nenek moyang pada setiap musim kemarau,'” Saya bikin dari pagi sampai dzuhur. Istirahat untuk sembahyang, kemudian kembali untuk bikin lagi sampai sore,” katanya.
Untuk mencari bahan baku j tikar, para pengrajin mencari di dalam hutan . Untuk
prosesnya, duri daun pandan dibuang, daun dibelah memanjang tipis hingga menjadi lebih banyak. Kemudian dijemur sampai kering dan layu.
“Jika daun sudah benar-benar kering dan layu, langsung dibawa ke gua untuk dibuat tikar,” jelasnya.
Sementara, guru Sekolah Dasar (SD) di dekat lokasi, Dedi mengaku sangat tertarik dan membeli tikar hasil kerajinan ibu-ibu di gua untuk dijadikan koleksi.
“Saya tertarik karena unik dan pembuatan di dalam gua. Hasilnya bagus, rapi dan cocok buat koleksi,” imbuhnya. (syam).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here