Kurangi Berobat ke Luar Negeri , RS Unair Jalani Akreditasi Internasional

Survey akreditasi SNARS edisi 1 yang dihadiri para pimpinan Unair dan RSUA, surveyor, dan tenaga medis serta staf di RSUA. (Foto : Ist)

SURABAYA | BIDIK NEWS – 8 surveyor dari lembaga akreditasi Standar Nasional Akreditasi Rumah Sakit (SNARS) datang ke Rumah Sakit Pendidikan Universitas Airlangga (RSUA), Selasa (14/5/2019). Pembukaan survey akreditasi SNARS edisi 1 dihadiri para pimpinan Unair dan RSUA, surveyor, tenaga medis serta staf di RSUA.

Selama 4 hari terhitung mulai Selasa (14/5) – Sabtu (18/5) nanti, para surveyor ini akan melakukan penilaian akreditasi internasional yang telah diajukan oleh RSUA.

Direktur RSUA Prof. Dr. Nasronudin, dr., Sp.PD., K-PTI.FINASIM mengatakan, saat ini pihaknya berusaha bisa menyesuaikan visi dan misi Unair. Yakni, dapat menjadi RS berstandart internasional dalam hal pelayanan, pendidikan, dan penelitian.

Pihaknya saat ini mendorong RSUA untuk terus maju dan berkembang. Dengan pengajuan akreditasi internasional ini, harapannya, ke depan masyarakat Indonesia cukup berobat dalam negeri dan tidak harus ke luar negeri.

“Cukup (berobat, Red) di Inonesia saja. Selain membawa kepercayaan diri, memenuhi, dan memberikan pelayanan yang baik, juga pasti lebih murah, lebih efisien,” terang Prof Nasron.

Perihal akderitasi internasional ini, Prof Nasron memercayakan Komisi Akreditasi Rumah Sakit (KARS) sebagai badan akreditasi dalam negeri bukan tanpa alasan. Sebab, masyarakat yang berobat juga masyoitas masyarakat Indonesia.

Hasil akreditasi ini rencananya akan keluar maksimal 1 minggu setelah survey dilakukan. Prof Nasron menambahkan, harapannya, jika RS sudah berstandart internasional, maka akan didorong bisa mencapai national and global tourism. Artinya, masyarakat luar negeri yang rata-rata berkunjung ke Indonesia 2,5 juta lebih dalam 1 tahun, akan berobat ke RSUA jika membutuhkan pelayanan kesehatan.

“Kami ingin menjadi daya dongkrak yang bagus untuk institusi Unair. Sehingga ini menjadi kerbanggaan civitas Unair, RS Unair menunjukkan mutu tinggi dan berkualitas bagus,” ucap Prof Nasron.

Meski terhiung muda, baru memasuki tahun ke-7, RSUA berupaya terus berubah dan berbenah. Hal ini diakuinya tidak memiliki banyak kendala, karena didukung tenaga muda yang kreatif dan inovatif. Pun, pimpinan Unair juga mendukung penuh berkembangnya RSUA.

“Terjadi sinergi positif antara pimpinan universitas, dewan pengawas, direktur, direksi, manajer, kepala instalasi, kepala unit, semua sinergi untuk bahu membahu mewujudkan misi dan bahu membahu bertanggungjawab untuk melaksanakan manajemen RS ini,” paparnya.

2019 ini, pelayanan di RSUA rata-rata mencapai 1500-1600 pasien. Ini jumlah yang cukup tinggi mengingat RSUA yang masih berusia relatif muda. Meski belum memberikan pelayanan pada Minggu, namun hal ini sedang dipikirkan oleh para pembuat kebijakan.

“Ke depan kalau tenaga kita sudah mumpuni, kita buka hari Minggu. Sehingga makin besar manfaat RS bagi masyarakat. Kami berharap RS Unair lulus dan lolos akreditasi internasional ini. Kalau lulus, akan jadi RS PTN pertama di Indonesia (yang terakreditasi internasional, Red),” pungkasnya. (hari)7

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*